FJPI Kalsel Dorong Jurnalis Perempuan Kawal Kedaulatan Informasi

  • 29 Agt 2026 20:34 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Kalimantan Selatan menggandeng Bank Kalsel menggelar Silaturahmi dan Diskusi Reflektif bertema “Perempuan dan Media: Merawat Kedaulatan Informasi, Menebar Keadilan” di Wakaka Stage, Sabtu 29 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi ruang refleksi bagi jurnalis perempuan untuk memperkuat peran media dalam menghadirkan informasi yang akurat, kritis, berintegritas, dan berpihak pada kepentingan publik.

Ketua FJPI Kalsel Hj. Sunarti mengatakan, tantangan jurnalisme di tengah derasnya arus informasi digital kini bukan lagi sekadar persoalan siapa yang paling cepat menyampaikan berita. Menurutnya, tantangan terbesar adalah bagaimana media mampu menghadirkan informasi yang benar, terverifikasi, dan dapat dipercaya masyarakat.

“Kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi. Bagi jurnalis, verifikasi bukan sekadar prosedur, tetapi bentuk tanggung jawab kepada publik,” ujar Sunarti. Ia menegaskan prinsip saring sebelum sharing dan verifikasi sebelum publikasi harus tetap menjadi pegangan meski tekanan untuk menghasilkan berita secara cepat semakin tinggi.

Selain akurasi, Sunarti menekankan pentingnya perspektif keadilan dalam setiap pemberitaan media. Menurutnya, media memiliki kekuatan besar dalam menentukan suara siapa yang memperoleh ruang serta isu apa yang akhirnya menjadi perhatian publik.

Ia menjelaskan keberimbangan tidak cukup hanya dengan menghadirkan dua pihak dalam sebuah berita. Jurnalis juga harus memastikan pemberitaan tidak memperkuat stigma, diskriminasi, maupun ketimpangan, termasuk terhadap perempuan, sehingga kritik tetap memiliki pijakan fakta dan kepentingan masyarakat.

“Kritik boleh tajam, tetapi harus berpijak pada fakta dan kepentingan publik,” kata Sunarti. Ia menilai keberadaan jurnalis perempuan di ruang redaksi penting untuk memperkaya keberagaman perspektif, khususnya ketika media mengangkat persoalan kelompok yang selama ini minim mendapatkan ruang.

Praktisi media sekaligus Ketua Tim Berita TVRI Kalsel Dr. Hj. Ratna Sari Dewi mengingatkan jurnalis perempuan agar tidak hanya datang ketika sebuah bencana sudah terjadi. Ia mencontohkan karhutla yang biasanya ramai diberitakan setelah api membesar dan kabut asap mulai dirasakan masyarakat, padahal ancamannya dapat dipetakan sejak awal.

“Ini kejadian yang berulang dan bisa diprediksi, karena kita sudah tahu kapan akan mengalami kemarau,” ujar Dewi. Menurutnya, media harus mampu membangun fungsi peringatan dini dengan mempertanyakan kesiapan pemerintah, ketersediaan air, sarana pemadaman, serta kondisi lahan rawan terbakar.

Dewi menegaskan fungsi preventif tidak berarti jurnalis mencampurkan opini ke dalam pemberitaan, melainkan mengarahkan perhatian publik berdasarkan fakta, data, dan narasumber kompeten. “Cari narasumber yang kuat, cari akademisi untuk memperkuat analisa, kita tidak boleh beropini, tetapi kita bisa mengarahkan agenda agar semua fokus pada preventif,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pusat Studi Ekonomi Kreatif dan Kewirausahaan LPPM ULM Dr. Hj. Hastin Umi Anisah, SE, MM, CT.NNLP, CH.t mendorong perempuan untuk terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi menghadapi perubahan zaman. “Bukan hanya UMKM yang harus naik kelas, tetapi perempuan sebagai sumber daya manusia juga harus naik kelas,” ujarnya.

Ia juga seraya menekankan pentingnya penguasaan teknologi digital, media sosial, dan AI tanpa meninggalkan etika serta integritas jurnalistik. “Peran kita bukan hanya menjadi korban. Kita bisa mencegah, mengeluarkan informasi dan menggerakkan perubahan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....