Makna Ulambana dan Pattiasina dalam Tradisi Umat Buddha

  • 26 Agt 2026 14:30 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan menekankan bahwa mengenang orang meninggal harus diisi dengan kebajikan, bukan hanya duka dan air mata.
  • Tradisi Ulambana dalam ajaran Mahayana berfokus pada penghormatan leluhur melalui pelimpahan jasa kebajikan.
  • Tradisi Pattidana dalam ajaran Theravada juga menekankan pelimpahan jasa kebajikan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal.

RRI.CO.ID, Banjarmasin: Kematian merupakan sebuah keniscayaan hidup yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia di dunia. Namun, ajaran agama Buddha menegaskan bahwa rasa kehilangan akibat meninggalnya orang terkasih tidak sepatutnya hanya diisi dengan duka dan air mata. Jangan hanya mengenang orang yang telah meninggal dengan air mata, tetapi kenanglah mereka dengan kebajikan.

Pesan moral tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Upasaka Pandita Sutikman Fauzi, dalam program siaran Mimbar Agama Budha RRI Pro 1 Banjarmasin pada Senin 24 Agustus 2026.

Pandita Sutikman memaparkan secara mendalam mengenai esensi dan makna tradisi Ulambana dan Pattidana yang berkembang di kalangan umat. Ulambana yang dikenal dalam tradisi Mahayana berfokus pada penghormatan leluhur, sedangkan Pattidana dalam tradisi Theravada berfokus pada pelimpahan jasa kebajikan.

Pandita Sutikman menjelaskan bahwa tradisi Ulambana sangat erat kaitannya dengan kisah Mahamoggallana yang berusaha menolong ibunya di alam penderitaan. Kisah tersebut mengajarkan nilai bakti atau filial piety yang mendalam agar setiap anak senantiasa menghargai dan mengasihi orang tua.

"Bakti yang paling baik bukan menunggu orang tua meninggal, tetapi merawat, menghormati, dan membahagiakan mereka selama masih hidup," ucapnya.

Sementara itu, praktik Pattidana dimaknai sebagai tindakan berbagi serta mendedikasikan jasa kebajikan kepada sanak keluarga yang telah berpulang. Umat dapat melantunkan doa paritta, bermeditasi, maupun berdana, lalu mendedikasikan hasilnya agar bermanfaat bagi makhluk yang membutuhkan. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa Pattidana bukanlah proses pemindahan pahala secara harfiah ataupun sarana menghapus karma buruk seseorang.

Menurut ajaran Buddha, setiap makhluk tetap memikul dan bertanggung jawab penuh atas perbuatan atau karma mereka masing-masing. Kebajikan yang dilimpahkan melalui Pattidana menjadi dorongan niat tulus untuk mengubah duka cita menjadi aksi sosial dan spiritual yang nyata. "Menjadi manusia yang baik, jujur, dan bertanggung jawab adalah bentuk penghormatan terbaik kepada orang tua," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran akan prinsip ketidakkekalan atau anicca dalam kehidupan sehari-hari. Momentum peringatan Ulambana dan Pattidana mestinya mengingatkan manusia agar tidak menunda-nunda berbuat baik kepada sesama. Di tengah era modernisasi yang serba cepat, umat diimbau untuk senantiasa mempererat tali silaturahmi serta memberikan perhatian nyata kepada keluarga terdekat.

Rangkaian mimbar Agama Buddha ini ditutup dengan ajakan agar setiap individu menjadikan kebiasaan hidup baik sebagai warisan luhur para leluhur. Dimana nilai kebaikan orang tua yang telah mendahului akan tetap hidup dan terpancar dalam perilaku generasi penerus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....