Karhutla Kalsel Berdampak pada Pendidikan dan Ekonomi
- 26 Agt 2026 13:01 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan menyebabkan dampak signifikan pada kesehatan masyarakat, sektor pendidikan, dan perekonomian lokal.
- Lahan gambut yang mengering merupakan faktor utama yang membuat wilayah Kalimantan rentan terhadap kebakaran dan penyebaran api yang cepat.
- Dialog Ragam Budaya Suluh Banua RRI Pro4 Banjarmasin menjadi platform untuk menyuarakan dampak karhutla terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta asap yang ditimbulkannya tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga mengganggu berbagai aktivitas sosial. Dampak tersebut dirasakan di sejumlah daerah di Kalimantan, termasuk sektor pendidikan dan perekonomian masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Faisal Embron dalam dialog Ragam Budaya Suluh Banua RRI Pro4 Banjarmasin, Minggu, 23 Agustus 2026. Menurutnya, kondisi lahan di Kalimantan, terutama lahan gambut yang mengering, rentan terbakar dan dapat memicu penyebaran api.
"Salah satu dampaknya terhadap kelancaran sosial yaitu di dunia pendidikan," ujarnya. “Dinas Pendidikan membuat surat edaran masuk sekolah yang dimundurkan menjadi jam 9 pagi.”
Pakacil Didin, jurnalis sekaligus konten kreator, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi kabut asap yang memburuk di Kalimantan Selatan dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, kabut asap tahun ini dinilai lebih pekat dibandingkan 2025 dan dampaknya bahkan disebut menjangkau negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
"Dampak lainnya, saya pernah melihat di daerah Barito Kuala yang mata pencahariannya itu mencari galam," ujar Pakacil Didin. “Karena kebakaran hutan ini membuat pohon-pohon galam di Batola terbakar sehingga pendapatan ekonomi mereka tidak ada, jadi sangat merugikan.”
Selain sektor ekonomi, kabut asap juga berdampak terhadap kegiatan perkuliahan. Mahasiswa UIN Antasari, M. Ali Fada, mengatakan kondisi tersebut turut menghambat pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang semula direncanakan berlangsung di Banjarbaru.
"Karena di Banjarbaru, ketebalan asapnya sangat memprihatinkan," ujar Fada. “Jadi, para panitia yang sudah mempersiapkan sejak berbulan-bulan lalu, pelaksanaannya menjadi terhambat dan dipindah ke Kampus 1 di Banjarmasin.”
Para narasumber mengingatkan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam dan menghentikan berbagai tindakan yang dapat merusak lingkungan. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meminimalkan dampak karhutla terhadap kehidupan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....