Ribuan Hektare Lahan Terbakar, Pemprov Kalsel Perkuat Penanganan Karhutla
- 25 Agt 2026 13:29 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus menggencarkan berbagai langkah taktis dalam menangani musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, Fathimatuzzahra, menyatakan sekitar 95 persen luasan karhutla di antaranya berada di luar kawasan hutan.
"Karhutla itu bukan hanya hutan, tapi juga lahan. Kita punya kewenangan yang berbeda antara Dinas Kehutanan di dalam kawasan, dan di luar kawasan itu kewenangannya BPBD," katanya.
Ia menegaskan, pihaknya telah memetakan sejumlah titik rawan utama, seperti Pengayuan dan Guntung Damar di Banjarbaru, serta Sambang Lihum di Kabupaten Banjar. Khusus kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, penanganan dilakukan melalui pembuatan sekat bakar dan optimalisasi pasokan air.
Pembasahan lahan gambut di lokasi tersebut mengandalkan aliran air irigasi golf, dengan memperbesar ukuran pipa dari dua inci menjadi enam inci. Selain itu, pemprov melibatkan pihak ketiga dari sektor pertambangan dan perkebunan untuk membantu operasi pemadaman secara bergantian selama 10 hari ke depan.
"Pada saat eskalasinya meningkat, itu akan ditambah dengan perusahaan lainnya. Tapi pada saat eskalasinya menurun, itu akan dikurangi," kata Fathimatuzzahra.
Pemerintah daerah juga memberdayakan Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa serta menyiapkan rancangan jangka panjang. Pada 2027 mendatang, Kalsel merencanakan penambahan embung serta pembangunan sistem kanalisasi permanen di area rawan.
Di sisi lain, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) masih belum bisa kembali dilaksanakan akibat minimnya potensi awan hujan. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kalsel, M Pormadi Dharma, mengungkapkan tim pemadam di lapangan mulai mengalami kelelahan fisik setelah bertugas intensif sejak akhir Juni.
"Kita sempat dapat tujuh atau 10 hari untuk OMC, terakhir tanggal 21 Juli. Kemudian karena kondisi ketersediaan awan hujannya memang tidak tersedia saat ini, akhirnya OMC tidak bisa dilaksanakan," ujarnya.
Pormadi menegaskan pelaksanaan OMC akan segera dilanjutkan kembali apabila BMKG mengonfirmasi adanya pertumbuhan awan hujan yang memadai. Penanganan melalui jalur darat pun terus dimaksimalkan mengingat tingginya angka sebaran kebakaran di seluruh Kalsel.
Sementara itu, Berdasarkan data BPBD Kalsel, hingga 24 Agustus 2026 akumulasi karhutla di Kalsel telah mencapai 1.873 kejadian. Dampak kebakaran tersebut menghanguskan total luas lahan sebesar 8.942,16 hektare.
Pemantauan satelit dan SiPongi Kemenhut RI mencatatkan titik api yang tersebar di 13 kabupaten/kota. Hingga 24 Agustus 2026, total sebaran titik hotspot di Kalsel menembus angka 10.430 titik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....