Pemanfaatan Teknologi Digital Sebagai Alat Bantu Berpikir Matematis

  • 24 Agt 2026 07:26 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Platform digital dan kecerdasan buatan telah mengubah metode pembelajaran matematika bagi generasi muda secara signifikan.
  • Banyak pelajar cenderung bergantung langsung pada AI saat menemui kesulitan tanpa melakukan analisis mandiri.
  • Kebiasaan menyalin jawaban dari teknologi tanpa melalui proses pemikiran kritis dapat merusak pembelajaran matematika yang sesungguhnya.

RRI.CO.ID, Banjarmasin: Kehadiran berbagai platform digital dan kecerdasan buatan di era modern membawa perubahan signifikan dalam metode belajar matematika bagi generasi muda. Dalam siaran Lentera Kehidupan RRI Pro 1 Banjarmasin kerja sama dengan Pusjibang PI UIN Antasari Banjarmasin, Jumat 21 Agustus 2026. Yang menyoroti tantangan para pelajar yang kerap menggunakan teknologi secara instan.

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin, Rinda Azmi Saputri, M.Pd., mengingatkan bahwa kemudahan mengakses internet tidak boleh mengikis daya kritis siswa. Menurutnya saat ini, banyak pelajar saat ini langsung bergantung pada kecerdasan buatan saat menemui kesulitan. "Kebiasaan menyalin jawaban tanpa melalui analisis mandiri dapat merusak proses pembelajaran matematika yang sesungguhnya", ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya menempatkan teknologi digital secara bijak sebagai sarana pendukung proses penalaran di sekolah maupun rumah. Merujuk pada laporan UNESCO tahun 2023, penerapan teknologi pendidikan harus didasarkan pada tujuan pembelajaran serta bukti manfaat yang nyata. "Perkembangan perangkat digital seharusnya difungsikan sebagai alat bantu berpikir dan bukan sebagai pengganti proses berpikir siswa", ucapnya.

Proses menemukan jawaban secara instan melalui aplikasi komputer dan memahami matematika merupakan dua hal yang sangat berbeda. Pelajar disarankan untuk mencoba memecahkan soal secara manual terlebih dahulu sebelum mencocokkan hasilnya dengan perangkat digital. Aplikasi seperti GeoGebra atau kalkulator hendaknya digunakan untuk mengeksplorasi grafik serta memverifikasi ketepatan hitungan.

Penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT juga perlu disikapi dengan menelusuri tahapan penyelesaian soal secara mendalam dan terstruktur. Siswa diharapkan tidak langsung puas dengan hasil akhir yang ditayangkan oleh aplikasi pintar tersebut. Peserta didik harus memeriksa kembali logika dari setiap langkah solusi yang diberikan oleh perangkat AI.

Selain tantangan ketergantungan instan, penggunaan media digital juga rentan memicu gangguan konsentrasi akibat distraksi konten lain. Rentang perhatian pelajar era digital yang relatif singkat menuntut pendidik untuk menyajikan materi video pembelajaran dalam durasi pendek. Pembagian durasi video menjadi beberapa segmen kecil terbukti lebih efektif dalam menjaga fokus dan daya tangkap siswa.

Peran aktif pendidik dan orang tua tetap menjadi kunci utama dalam mengawasi serta mengarahkan pemanfaatan gawai oleh anak. Kolaborasi yang baik antara pengawasan orang dewasa dan teknologi canggih akan melahirkan generasi yang mahir berpikir matematis. "Pembimbingan yang konsisten menjamin bahwa teknologi benar-benar menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik", katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....