Strategi Efektif Memahami Pelajaran Matematika Bagi Generasi Digital
- 24 Agt 2026 07:19 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Stigma negatif terhadap matematika telah lama tertanam di masyarakat karena metode pengajaran tradisional dan kurangnya relevansi dengan kehidupan sehari-hari.
- Kurikulum modern mengarahkan pembelajaran matematika berbasis digital dan soal cerita untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang manfaat praktis matematika.
- Masyarakat perlu mengubah persepsi bahwa matematika adalah subjek yang menakutkan melalui pendekatan pengajaran yang lebih kontekstual dan inovatif.
RRI.CO.ID, Banjarmasin: Stigma negatif terhadap matematika sudah terbentuk sejak lama di tengah masyarakat. Anggapan sulit sering dipengaruhi oleh metode pengajaran baku pada masa lalu serta kurangnya keterkaitan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam siaran Lentera Kehidupan RRI Pro 1 Banjarmasin, Jumat 21 Agustus 2026, kerja sama dengan Pusjibang PI UIN Antasari Banjarmasin, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin, Rinda Azmi Saputri, M.Pd., menyampaikan bahwa Perkembangan kurikulum modern kini mulai mengarahkan pembelajaran berbasis digital dan soal cerita agar siswa lebih mudah memahami manfaat matematika dalam keseharian. Masyarakat diajak untuk mengubah persepsi lama bahwa pelajaran matematika merupakan subjek yang menakutkan.
Untuk mengatasi hambatan belajar pada era modern, ia memperkenalkan formulasi lima langkah yang dikenal dengan sebutan metode 5M. Tahapan tersebut meliputi langkah memahami masalah, mencoba menyelesaikan sendiri, menggunakan bantuan teknologi, menjelaskan kembali penalaran, serta melakukan refleksi akhir.
"Penerapan langkah awal yang mendasar adalah dengan membaca dan membedah konteks soal sebelum bergegas memasukkan angka ke dalam rumus", ujarnya.
Proses mencoba menyelesaikan soal secara mandiri dinilai sangat penting untuk memberi ruang bagi otak dalam mengolah pemecahan masalah. Para siswa diimbau tidak langsung menyerah atau serta-merta mencari jawaban instan tanpa melalui proses berpikir yang esensial. Aktivitas menguji dugaan dan memperbaiki kesalahan sendiri merupakan bagian vital dari proses pembentukan kecerdasan matematis.
Dalam tahap menjelaskan, peserta didik diminta untuk menyampaikan kembali jalan pikiran mereka menggunakan bahasa sendiri seolah sedang mengajar. Kemampuan mengomunikasikan alur penyelesaian tersebut menandakan bahwa siswa telah benar-benar menguasai konsep dasar suatu materi. Belajar matematika bukan sekadar mendapatkan jawaban akhir yang benar, melainkan tentang bagaimana mengomunikasikan penalaran secara logis.
Tahap akhir dari metode ini adalah refleksi yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman konsep yang telah dipelajari oleh siswa. Dengan mengevaluasi kembali setiap langkah penyelesaian, peserta didik dapat menemukan kekeliruan sekaligus memperdalam daya ingat mereka.
"Keberhasilan belajar akan tercapai apabila siswa mampu merefleksikan seluruh proses pemecahan masalah secara mandiri dan sistematis", ujarnya.
Upaya membangkitkan minat belajar anak juga memerlukan kreativitas guru dalam mengemas materi serta memanfaatkan media pembelajaran yang interaktif. Pengelompokan kebutuhan belajar siswa dinilai mampu memberikan variasi metode yang sesuai dengan karakter masing-masing individu. Pendekatan pembelajaran yang tepat akan membantu menciptakan suasana belajar matematika yang menyenangkan dan relevan bagi generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....