Dinkes Banjarmasin Waspadai Lonjakan Kasus Diare saat Kemarau
- 22 Agt 2026 15:48 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin mencatat 6.673 kasus diare selama periode Januari hingga Juli 2026 dengan perhatian khusus terhadap ancaman penyakit di musim kemarau.
- Kasus diare tertinggi terjadi pada bulan Januari dengan 1.570 kasus, kemudian menurun pada Februari menjadi 895 kasus dan Maret menjadi 796 kasus.
- Penyakit diare merupakan ancaman kesehatan yang serius bagi masyarakat Banjarmasin dan memerlukan upaya penanganan dan pencegahan yang intensif dari pihak kesehatan.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin menaruh perhatian serius terhadap ancaman penyakit diare selama musim kemarau. Pihaknya mencatat sebanyak 6.673 kasus diare terjadi sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Secara keseluruhan, kasus diare tertinggi terjadi pada Januari dengan 1.570 kasus. Jumlah tersebut kemudian menurun pada Februari menjadi 895 kasus dan kembali turun pada Maret menjadi 796 kasus.
Kasus diare kembali meningkat pada April menjadi 857 kasus sebelum turun pada Mei dengan 783 kasus. Tren kasus kemudian kembali naik pada Juni menjadi 827 kasus dan mencapai 945 kasus pada Juli.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin Yanuar Diansyah mengingatkan warga mewaspadai perubahan kualitas air baku rumah tangga. Penurunan kualitas air baku akibat intrusi air laut selama musim kemarau dinilai turut meningkatkan risiko penyakit diare.
“Diare memang masih rendah, tetapi saat ini kualitas bahan baku air mengalami peningkatan kadar garam yang tinggi. Hal ini sedikit banyak juga berpengaruh,” ujar Yanuar.
Yanuar mengatakan sekitar 99 persen warga Kota Banjarmasin telah terjangkau jaringan air bersih. Namun, perubahan kondisi air baku tetap menuntut kewaspadaan dan kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kebersihan.
“Bukan masalah berapa jumlah masyarakat yang punya jaringan, tetapi air baku yang diolah untuk keperluan rumah tangga kadar garamnya meningkat,” kata Yanuar. “Masyarakat tetap perlu menjaga kewaspadaan.”
Untuk mencegah risiko penularan diare, warga diimbau memasak air hingga mendidih sebelum dikonsumsi. Dinkes Banjarmasin juga telah menginstruksikan seluruh puskesmas menyiagakan penanganan medis dasar bagi penderita.
Sebelumnya, intrusi air laut memicu peningkatan kadar garam air baku PT Air Minum Bandarmasih hingga mencapai 2.119 PPM. Kondisi tersebut menyebabkan penghentian sementara operasional Intake Sungai Bilu karena kualitas air baku belum memenuhi standar pengolahan.
Direktur Utama PT Air Minum Bandarmasih Zulbadi mengimbau warga menghemat penggunaan air bersih selama masa kendala pasokan. Pihaknya juga menyiapkan opsi pemanfaatan air untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK) dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.
“Saat ini kami terus mencari solusi terbaik agar pelayanan kepada masyarakat tetap bisa berjalan di tengah keterbatasan air baku,” kata Zulbadi. “Salah satu yang sedang kami usulkan adalah pemanfaatan air untuk kebutuhan MCK, tentunya dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....