Kabut Asap Mengintai, Alat Pemantau Udara Banjarmasin Malah Rusak
- 21 Agt 2026 10:59 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin — Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau justru dihadapkan pada persoalan lain di Kota Banjarmasin. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin saat ini tidak bisa menyajikan data real-time Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) karena alat pemantau kualitas udara mengalami kerusakan.
Alat Air Quality Monitoring System (AQMS) yang seharusnya menjadi rujukan untuk mengetahui kondisi kualitas udara terkini mengalami gangguan pada bagian sensor. Akibatnya, pemantauan kualitas udara di Kota Seribu Sungai tersebut untuk sementara terhenti.
Kepala DLH Kota Banjarmasin, Jefrie Fransyah mengatakan, kerusakan terjadi pada sistem sensor sehingga hasil pengukuran tidak lagi dapat dijadikan acuan secara akurat. “Alat pemantau kita masih error, kita lagi meminta perbaikan sistem ke kementerian. Itu alatnya milik Kementerian LH,” ujar Jefrie.
Persoalan semakin krusial karena AQMS tersebut merupakan alat utama untuk mengukur kualitas udara. Ketika sensor bermasalah, DLH tidak memiliki instrumen sendiri untuk memastikan kondisi udara secara langsung dan berkala.
Jefrie menegaskan, data dari alat yang rusak tidak bisa dipaksakan digunakan karena tingkat presisinya sudah terganggu. Di tengah ancaman karhutla yang berpotensi meningkatkan konsentrasi asap dan partikulat di udara, kondisi tersebut membuat ruang pemantauan DLH menjadi terbatas.
“Untuk pengukur kualitas udara ini sepenuhnya menggunakan alat. Jadi kalau alatnya rusak, kita tidak bisa mengukur. Intinya sensornya tidak presisi, hasil pengukurannya tidak valid jadi terlambat,” ujarnya.
Untuk sementara, DLH Banjarmasin hanya mengandalkan indikator kualitas udara dari kabupaten/kota sekitar yang masih memiliki alat pemantau berfungsi. Langkah tersebut dilakukan sembari menunggu perbaikan AQMS milik Kementerian Lingkungan Hidup.
Selain itu, DLH memilih memperkuat langkah pencegahan dengan mengimbau masyarakat agar mewaspadai potensi penurunan kualitas udara. “Mungkin upaya yang bisa kami lakukan imbauan saja dulu. Kita sambil melihat indikator dari kabupaten/kota tetangga,” kata Jefrie.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....