WCD 2026 Digelar di ULM, Banjarmasin Bidik Pengelolaan Sampah 100 Persen Mandiri

  • 19 Agt 2026 09:33 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Pemerintah Kota Banjarmasin mulai memperkuat strategi penanganan sampah dari hulu hingga hilir. Langkah itu ditandai dengan kehadiran Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar dalam Pembukaan Kampanye World Cleanup Day (WCD) 2026 di Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Kehadiran Ichrom merupakan tindak lanjut instruksi Wali Kota Banjarmasin H. M. Yamin HR, yang dibuka Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq. WCD sendiri merupakan gerakan lingkungan global yang digelar serentak di 211 negara dan telah masuk dalam kalender resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Di Indonesia, kampanye tahun ini mengusung tema “Aksi Bebersih Pemuda-Pemudi Memerdekakan Sampah” dan berlangsung mulai 17 Agustus hingga 28 Oktober 2026. Puncak kampanye dijadwalkan berlangsung pada 20 Oktober 2026 di Universitas Atma Jaya Jakarta.

Di tengah momentum tersebut, Pemko Banjarmasin mengungkapkan tengah menyiapkan tujuh regulasi penanganan sampah yang mencakup seluruh rantai pengelolaan, mulai dari hulu, tengah hingga hilir. Salah satu regulasi tersebut menyasar pengelolaan sampah skala kawasan, termasuk kawasan pendidikan, dan ULM menjadi lokasi awal penerapannya.

“Yang pertama kali dilaksanakan di Kampus ULM. Tadi Pak Rektor juga menyampaikan akan membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa terkait pengelolaan sampah. Ini sejalan dengan yang disiapkan Pemkot,” ujar Tezar.

Menurutnya, Pemko Banjarmasin siap mendukung ULM agar mampu mengelola sampah secara mandiri di lingkungan kampus. Tak hanya kawasan pendidikan, regulasi yang tengah disiapkan juga menyasar sektor hotel, restoran dan kafe (Horeka), stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), katering, agen 3R hingga bank sampah.

Tezar menegaskan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan pemerintah seorang diri, tapi dibutuhkan keterlibatan dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas hingga masyarakat. “Pemerintah Kota tidak mungkin berjalan sendiri. Perlu dukungan semua pihak,” katanya.

Sementara itu, Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq mendorong ULM menjadi kampus pertama di Indonesia yang mampu mengelola sampah 100 persen secara mandiri. Ia menyebut terdapat tiga persoalan utama dalam pengelolaan sampah nasional, yakni tata kelola, sistem pengolahan, serta komunikasi, informasi dan edukasi (KIE).

“Tiga masalah substansial sampah nasional. Yaitu tata kelola, sistem pengolahan, dan KIE,” ujar Hanif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....