BMKG Ungkap Penyebab Suhu Dingin saat Puncak Kemarau
- 13 Agt 2026 19:19 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Suhu panas pada siang hari dan dingin hingga dini hari merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi saat puncak musim kemarau di Banjarmasin.
- Fenomena ini dikenal sebagai pendinginan radiatif dalam ilmu meteorologi, terjadi karena langit cerah dan minimnya tutupan awan sehingga panas bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer.
- Kondisi pendinginan radiatif mulai dirasakan sejak Juni dan mencapai puncak pada Juli hingga Agustus sebelum memasuki masa transisi pada September dan Oktober.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Suhu udara yang terasa sangat panas pada siang hari dan dingin hingga dini hari merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi saat puncak musim kemarau. Kondisi tersebut dipengaruhi langit cerah serta minimnya tutupan awan sehingga panas dari permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer.
Pengamat dan Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Gusti Syamsir Alam Kotabaru, Siti Anisa Eka Buana, S.Tr.Met., menjelaskan kondisi tersebut dikenal dalam ilmu meteorologi sebagai pendinginan radiatif. Fenomena ini mulai dirasakan sejak Juni dan umumnya mencapai puncak pada Juli hingga Agustus sebelum memasuki masa transisi pada September dan Oktober.
“Fenomena ini adalah siklus alamiah yang sangat wajar terjadi saat kita berada di puncak musim kemarau,” ucap Siti Anisa dalam program Kentongan RRI Pro1 Banjarmasin, Selasa, 11 Agustus 2026. “Secara ilmu meteorologi fenomena ini disebut dengan pendinginan radiatif.”
Di Kalimantan Selatan, suhu minimum yang biasanya berada pada kisaran 24 hingga 25 derajat Celsius saat musim hujan dapat turun menjadi sekitar 21 hingga 23 derajat Celsius pada musim kemarau. Penurunan tersebut terasa cukup signifikan bagi masyarakat yang terbiasa dengan kondisi udara tropis yang lembap.
“Pada saat di puncak musim kemarau, langit malam di Kalimantan Selatan sangat bersih tanpa awan,” ucap Siti Anisa. “Akibatnya, saat bumi melepaskan panasnya, panas ini langsung lepas ke angkasa luar.”
Selain langit cerah, udara dingin juga dipengaruhi angin Monsun Timur yang membawa massa udara dingin dan kering dari Australia menuju Indonesia. Kondisi tersebut turut memengaruhi wilayah pesisir Kalimantan Selatan, khususnya Kotabaru dan kawasan pesisir selatan, sementara daerah pegunungan cenderung merasakan suhu lebih dingin.
“Selain langit tanpa awan, suhu dingin yang kita rasakan sekarang ini sebenarnya disponsori oleh angin dari benua Australia,” kata Siti Anisa. “Angin ini yang membawa hawa kering sehingga sensasi dingin yang kita rasakan semakin terasa.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....