Sasirangan Dibawa ke Yogyakarta, Misi Naik Kelas dengan Pewarna Alam
- 11 Agt 2026 11:37 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Sasirangan Kota Banjarmasin didorong naik kelas melalui inovasi pewarna alam. Upaya tersebut dilakukan Dekranasda Kota Banjarmasin dengan menggelar Pelatihan Sasirangan Pewarna Alam di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik Yogyakarta.
Pelatihan yang dibuka Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin, Neli Listriani, itu berlangsung selama lima hari, 10-14 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi meningkatkan kapasitas sekaligus kompetensi pengrajin Sasirangan agar mampu menghasilkan produk yang inovatif dan berkelanjutan.
Turut hadir Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik Yogyakarta, Zya Labiba. Kemudian Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin, Ignasius Rizky Perdana Salan, serta Sekretaris Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin, Fitriah.
Neli menilai dukungan Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik Yogyakarta menjadi bagian penting dalam pengembangan kualitas pengrajin Sasirangan Banjarmasin. Terlebih, pelatihan tersebut digelar bertepatan dengan momentum Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin.
“Pelaksanaan pelatihan ini bukan sekadar kegiatan peningkatan kompetensi. Tetapi menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan lima abad Kota Banjarmasin,” kata Neli.
Menurutnya, penggunaan pewarna alam tidak hanya menawarkan karakter warna yang khas pada kain Sasirangan. Tetapi juga membuka peluang pengembangan industri kreatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Penggunaan pewarna alam menjadi salah satu inovasi penting dalam pengembangan Sasirangan. Karena menawarkan karakter warna yang unik sekaligus mendukung aspek lingkungan, kesehatan perajin, dan keberlanjutan industri kreatif,” katanya.
Neli menegaskan, inovasi tidak boleh membuat Sasirangan kehilangan identitas budaya yang melekat kuat pada masyarakat Banjar. Sebagai warisan budaya, Sasirangan menurutnya harus terus bertransformasi melalui inovasi tanpa kehilangan jati dirinya.
“Sasirangan adalah identitas, kebanggaan, sekaligus warisan budaya masyarakat Banjar yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan ekonomi yang sangat tinggi. Sebagai warisan budaya, Sasirangan harus terus bertransformasi melalui inovasi tanpa kehilangan jati dirinya,” ucapnya.
Pelatihan tersebut diikuti empat pengrajin Sasirangan yang merupakan pemenang Lomba Desain Motif Sasirangan Tahun 2026 kategori Pewarna Alam. Neli berharap para peserta tidak berhenti pada peningkatan kemampuan pribadi.
Pengetahuan dan teknik yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan sekaligus dibagikan kepada pengrajin Sasirangan lainnya di Banjarmasin. “Jadikan pelatihan ini sebagai ruang belajar, ruang berdiskusi dan ruang bereksperimen. Kemudian ruang melahirkan inovasi baru dalam pengembangan Sasirangan berbasis pewarna alam,” ujarnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....