Kopi dan Gula, Filosofi Menghadapi Pahit Manis Kehidupan
- 08 Agt 2026 11:41 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Secangkir kopi dapat dimaknai sebagai filosofi kehidupan melalui perpaduan rasa pahit dan manis yang mengajarkan keikhlasan, kesabaran, dan kedewasaan.
- Ustaz H. Reza Ferdian menyampaikan pelajaran ini pada acara Hikmah Subuh yang diselenggarakan di RRI Pro4 Banjarmasin pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
- Setiap unsur dalam secangkir kopi dapat menjadi gambaran tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan nilai-nilai spiritual yang mendalam.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Secangkir kopi tidak hanya menjadi minuman, tetapi juga dapat dimaknai sebagai filosofi kehidupan melalui perpaduan rasa pahit dan manis. Filosofi tersebut mengajarkan tentang keikhlasan, kesabaran, serta kedewasaan dalam menghadapi berbagai keadaan.
Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz H. Reza Ferdian, Lc., M.Pd. dalam acara Hikmah Subuh, Sabtu, 8 Agustus 2026 di RRI Pro4 Banjarmasin. Menurutnya, setiap unsur dalam secangkir kopi dapat menjadi gambaran tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan.
Ia menjelaskan gula dapat menjadi gambaran tentang keikhlasan seseorang dalam berbuat kebaikan. Menurutnya, orang yang ikhlas tidak selalu terlihat, tetapi kebaikannya dapat dirasakan oleh orang lain.
“Orang ikhlas itu seperti gula, larut tak terlihat,” ujarnya. “Namun jejaknya meninggalkan rasa manis dan kebaikan tanpa mengharapkan pujian dari orang lain.”
Sementara itu, kopi mengajarkan manusia tentang kedewasaan dalam menghadapi berbagai keadaan kehidupan. Seperti biji kopi yang harus ditumbuk dan diseduh dengan air panas, proses tersebut menggambarkan bahwa pengalaman dan ujian dapat membentuk seseorang menjadi lebih matang.
Ustaz Reza menjelaskan bahwa rasa pahit tidak selalu berarti buruk karena dari kepahitan seseorang dapat belajar menerima dan bertahan. Berbagai pengalaman tersebut juga dapat menjadi pelajaran untuk meningkatkan kedewasaan dalam menjalani kehidupan.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan setiap manusia pasti diwarnai beragam ujian. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155, manusia akan diuji dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, serta kabar gembira diberikan kepada orang-orang yang sabar.
“Pada ayat tersebut diajarkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan,” kata Ustaz Reza. “Sehingga seorang muslim harus sabar, bisa mengambil hikmah dan tetap berharap kepada Allah Swt.”
Menurutnya, filosofi kopi dan gula juga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Gula yang terlalu banyak dapat menghilangkan cita rasa kopi, begitu pula kesenangan yang berlebihan dapat membuat seseorang terlena hingga melupakan Allah Swt.
Ustaz Reza juga mengingatkan sabda Rasulullah saw tentang keadaan seorang mukmin yang selalu mendapatkan kebaikan dalam setiap kondisi. Ketika memperoleh kesenangan, seorang mukmin bersyukur, sedangkan ketika menghadapi kesusahan, ia bersabar.
Pada akhirnya, filosofi kopi dan gula mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang rasa dan manfaat yang ditinggalkan bagi orang lain. Karena itu, umat Islam diajak untuk menjadi pribadi yang ikhlas dalam berbuat baik dan matang menghadapi manis maupun pahitnya kehidupan.
“Maka jadilah seperti gula, memberi kebaikan tanpa banyak terlihat. Teruslah belajar dari kopi untuk menjadi pribadi yang matang dalam menghadapi manis maupun pahitnya kehidupan,” ujar Ustaz H. Reza Ferdian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....