Umat Islam Diimbau Tinggalkan Mitos Kesialan Bulan Safar
- 30 Jul 2026 10:42 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Ustadzah Dr. Hj. Mariani dari UIN Antasari Banjarmasin mengimbau umat Islam untuk menghapus keyakinan tahayul dan mitos kesialan yang melekat pada bulan Safar.
- Mitos bulan Safar sebagai pembawa musibah tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam dan bertentangan dengan prinsip fundamental agama.
- Ajaran Islam menekankan bahwa semua 12 bulan dalam kalender Hijriah memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Umat Islam diimbau untuk tidak mempercayai mitos yang menganggap bulan Safar sebagai bulan pembawa kesialan. Kepercayaan tersebut dinilai tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Hal tersebut disampaikan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Ustazah Dr. Hj. Mariani, S.H., M.Ag., dalam siaran Kuliah Subuh RRI Pro1 Banjarmasin, Minggu, 26 Juli 2026. Menurutnya, seluruh bulan dalam kalender Hijriah memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah Swt.
"Tidak ada bulan yang membawa kesialan, termasuk bulan Safar. Semua yang terjadi berada atas izin dan ketentuan Allah Swt," ujar Ustazah Mariani.
Ia menjelaskan, Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36 menerangkan bahwa Allah Swt telah menetapkan dua belas bulan dalam satu tahun. Selain itu, hadis riwayat Bukhari dan Muslim juga menegaskan tidak adanya keyakinan tentang kesialan yang melekat pada bulan tertentu.
Menurutnya, anggapan bahwa bulan Safar identik dengan musibah merupakan warisan kepercayaan masyarakat pada masa Jahiliah. Dalam Islam, setiap peristiwa terjadi sesuai dengan ketetapan Allah Swt, bukan karena pengaruh waktu atau bulan tertentu.
Ustazah Mariani mengatakan, secara bahasa kata Safar berarti kosong. Penamaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada masa lampau yang meninggalkan permukiman untuk berdagang atau berperang sehingga kampung menjadi sepi.
"Kondisi perkampungan yang kosong itulah yang menjadi latar belakang penamaan bulan Safar," katanya. “Makna tersebut tidak berkaitan dengan kesialan ataupun musibah.”
Ia mengajak umat Islam memanfaatkan bulan Safar dengan memperbanyak ibadah dan amal kebajikan. Selain meningkatkan kualitas spiritual, masyarakat juga diimbau memperkuat kepedulian sosial melalui sikap saling membantu dan bersedekah.
"Mari kita ubah pola pikir negatif menjadi semangat berbagi kepada sesama," ucap Ustazah Mariani. “Bulan Safar hendaknya diisi dengan amal saleh dan berbagai kegiatan yang bermanfaat.”
Ia juga mengingatkan para orang tua untuk membiasakan mendoakan serta menyampaikan perkataan yang baik kepada anak-anak. Menurutnya, ucapan yang baik dari orang tua dapat menjadi doa yang berdampak positif bagi masa depan anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....