Memendam Kekecewaan Berisiko Picu Konflik Rumah Tangga
- 28 Jul 2026 12:54 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Penumpukan kekecewaan kecil yang tidak terselesaikan dalam pernikahan berpotensi memicu krisis rumah tangga pada usia matang, khususnya di usia 40 tahun ke atas.
- Ketidakmampuan pasangan mengomunikasikan ganjalan emosional secara terbuka menjadi sumber utama konflik dalam hubungan suami istri pada usia matang.
- Kekecewaan yang ditahan dan tidak dituntaskan akan terakumulasi dan dapat memicu perceraian pada usia 40 atau 50 tahun jika tidak ditangani dengan bijak.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Penumpukan kekecewaan yang tidak diselesaikan dalam rumah tangga dapat memicu konflik berkepanjangan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi keharmonisan pasangan, terutama pada usia dewasa.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam siaran "Inspirasi Kehidupan" RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 25 Juli 2026, bersama praktisi parenting dan keluarga, Rimalia Karim. Menurutnya, banyak persoalan rumah tangga bermula dari masalah kecil yang terus dipendam tanpa diselesaikan.
"Kekecewaan yang ditahan dan tidak dituntaskan dapat memuncak ketika memasuki usia 40 atau 50 tahun," ujar Rimalia Karim. “Kondisi tersebut berpotensi memicu konflik hingga perceraian.”
Ia menjelaskan, kebiasaan menghindari komunikasi menjadi salah satu tanda awal munculnya persoalan dalam rumah tangga. Apabila terus dibiarkan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Menurut Rimalia, tekanan emosional yang berlangsung dalam waktu lama tidak hanya memengaruhi hubungan suami istri, tetapi juga berdampak pada kesehatan. Oleh karena itu, setiap pasangan perlu membangun komunikasi yang terbuka dan saling mendukung.
Ia mengajak pasangan suami istri untuk mengurangi sikap egois serta membiasakan diri saling memaafkan. Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun kembali kepercayaan dan keharmonisan dalam keluarga.
"Saling memberi kesempatan untuk berubah merupakan langkah proaktif dalam menyelamatkan ikatan pernikahan," katanya. “Komunikasi yang baik juga menjadi fondasi untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.”
Selain memperbaiki komunikasi, Rimalia menilai pemulihan luka emosional dari masa lalu juga perlu dilakukan. Menurutnya, pendekatan spiritual dan keikhlasan dapat membantu pasangan menghadapi berbagai tantangan rumah tangga dengan lebih bijaksana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....