Air Mancur PAM Mati, Pertanda Krisis Air? Ancaman Air Asin Mengintai Banjarmasin
- 20 Jul 2026 09:02 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Air mancur di depan kantor PAM Bandarmasih yang tak lagi menyemburkan air belakangan menjadi perhatian. Kondisi itu seolah menjadi pertanda awal datangnya musim kemarau yang mulai membawa ancaman terhadap ketersediaan air bersih di Kota Banjarmasin.
Diketahui, memasuki musim kemarau intrusi air laut ke sumber air baku mulai terjadi. Namun, PAM Bandarmasih mengklaim kualitas air yang didistribusikan kepada pelanggan masih berada dalam kondisi aman.
Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi, mengatakan kadar garam pada air baku saat pasang saat ini tercatat sekitar 15 mg per liter. Jauh di bawah ambang batas maksimal 250 mg per liter sesuai Peraturan Menteri Kesehatan.
"Saat ini kondisi air yang kami distribusikan masih normal. Kadar garam air baku memang mulai meningkat karena pengaruh musim kemarau, tetapi angkanya masih sangat aman dan jauh di bawah batas yang ditetapkan," kata Zulbadi.
Mengantisipasi potensi memburuknya kondisi saat kemarau semakin panjang, PAM Bandarmasih mengklaim telah menyiapkan sejumlah langkah strategis agar pasokan air bersih tetap lancar. Salah satunya dengan melakukan pembersihan intake secara rutin.
"Petugas rutin menguras mulut pompa di Intake Sungai Tabuk dan Sungai Bilu. Terutama pada pukul 01.00 WITA saat air surut agar pengambilan air bebas hambatan teknis," katanya.
Selain itu, PAM juga menyiapkan skema water mixing atau pencampuran air dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 dan IPA 2 apabila kadar garam di air baku mulai mengalami peningkatan signifikan. "Instalasi kami dirancang untuk mengolah air tawar, bukan menyuling air asin. Jika kadar garam mulai naik, kami akan melakukan pencampuran air dari IPA 1 dan IPA 2 agar air yang didistribusikan tetap tawar dan layak konsumsi," ucap Zulbadi.
Tak hanya fokus pada pengolahan air, PAM Bandarmasih juga terus berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II terkait pengaturan pintu air Bakula. Langkah tersebut dilakukan agar distribusi air tawar tetap seimbang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, petani hingga petambak.
Menurut Zulbadi, kondisi ke depan sangat bergantung pada curah hujan. Apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang tanpa hujan, intrusi air laut berpotensi semakin meningkat.
Karena itu, masyarakat diminta mulai melakukan langkah antisipasi dengan menggunakan air secara hemat dan menyiapkan cadangan air di rumah. "Batasi penggunaan air bersih hanya untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak. Mulai isi tandon, tajau, atau ember besar sebagai cadangan apabila sewaktu-waktu terjadi kendala distribusi," ujarnya, berpesan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....