Hari Pustakawan Indonesia, IPI Kalsel Dorong Penguatan Literasi Digital
- 07 Jul 2026 16:33 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Profesi pustakawan modern telah bertransformasi dari sekadar penjaga buku menjadi pengelola pengetahuan dan pemandu masyarakat dalam memverifikasi informasi berkualitas di era digital.
- Pustakawan memiliki peran krusial dalam memerangi hoaks dan disinformasi dengan mengajarkan masyarakat cara memverifikasi sumber informasi secara bijaksana dan mengembangkan literasi kritis.
- Literasi modern mencakup kecakapan memahami informasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan yang tepat, memerlukan kolaborasi erat antara perpustakaan dan institusi pendidikan untuk mengedukasi generasi muda.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Profesi pustakawan kini tidak lagi hanya dipandang sebagai pengelola buku di perpustakaan. Perkembangan teknologi digital menuntut pustakawan berperan sebagai pengelola pengetahuan sekaligus pendamping masyarakat dalam memperoleh informasi yang akurat dan tepercaya.
Hal tersebut disampaikan Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kalimantan Selatan, Dr. Moch. Isra Hajiri, M.Hum., yang juga dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin, dalam siaran "Lentera Kehidupan" RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 3 Juli 2026. Menurutnya, anggapan bahwa pustakawan hanya bertugas menyusun buku di rak sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.
"Pustakawan bertugas membantu masyarakat menemukan referensi yang tepercaya,” ujarnya. “Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah banjir informasi digital saat ini.”
Ia menjelaskan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah maraknya penyebaran hoaks di media sosial. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan literasi agar masyarakat mampu menyaring informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
"Pustakawan bukan hanya menyediakan informasi. Pustakawan juga mengajarkan cara memverifikasi sumber informasi secara bijaksana," katanya.
Menurut Isra Hajiri, literasi modern tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.
"Penyebar hoaks itu biasanya adalah orang baik yang memiliki niat baik. Namun, mereka kurang memiliki kemampuan literasi," ujarnya.
Ia menilai kolaborasi antara perpustakaan dan lembaga pendidikan perlu terus diperkuat untuk meningkatkan budaya literasi di kalangan generasi muda. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan penyebaran disinformasi sekaligus membangun masyarakat yang lebih cerdas dalam memanfaatkan teknologi.
Dalam momentum Hari Pustakawan Indonesia yang diperingati setiap 7 Juli, Isra Hajiri mengajak seluruh elemen masyarakat memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan perpustakaan dan budaya literasi. Menurutnya, kemajuan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kualitas literasi masyarakatnya.
"Penghargaan yang tinggi patut diberikan kepada seluruh pustakawan. Mereka terus mengabdi demi mencerdaskan kehidupan bangsa," kata Isra Hajiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....