Kehadiran Ayah Kunci Utama Tumbuh Kembang Anak

  • 18 Jun 2026 12:38 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Keterlibatan aktif seorang ayah dalam pengasuhan anak memegang peranan yang sangat krusial dalam membentuk karakter dan mental generasi muda. Melalui program bincang-bincang komunitas di RRI PRO1 Banjarmasin, esensi kedekatan emosional antara ayah dan anak dikupas secara tajam serta substansial. Hubungan emosional yang harmonis terbukti mampu mendongkrak rasa percaya diri serta kemandirian anak dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial.

Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia Kalimantan Selatan, Anisya Putri Ningsih dalam Program NGOBRAS RRI Pro1 Banjarmasin, Selasa 16 Juni 2026, menegaskan bahwa peran ayah tidak dapat digantikan oleh siapapun dalam keluarga. Ia menyoroti adanya dilema besar di mana para kepala keluarga sering kali menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bekerja demi mencari nafkah. Kondisi tersebut memicu kerenggangan psikologis karena figur ayah seolah-olah hanya hadir sebagai pemenuh kebutuhan materi atau finansial semata.

Ketiadaan keterlibatan emosional dari sosok pria di rumah dapat menimbulkan dampak negatif jangka panjang bagi perkembangan psikologis anak. Fenomena ketiadaan figur ayah atau yang dikenal sebagai fatherless ini kerap memicu kecemasan hingga hambatan perilaku pada usia remaja. Oleh sebab itu, kesadaran para orang tua muda untuk saling berkompromi dalam mengasuh anak harus terus ditingkatkan secara konsisten.

Menurut Anisya, kehadiran yang bermakna dari seorang kepala keluarga sebenarnya tidak melulu menuntut durasi waktu yang sangat panjang. Waktu berkualitas yang dihabiskan bersama anak jauh lebih penting daripada sekadar mendampingi dalam durasi lama namun tanpa perhatian penuh. Langkah nyata ini dapat disiasati dengan meluangkan waktu khusus di sela-sela kesibukan rutin setelah pulang dari tempat kerja.

"Kehadiran bagi anak yang bermakna ini tidak harus dalam waktu yang banyak," ujar Anisya. Ia menyarankan agar para ayah meluangkan waktu sekitar lima belas menit sebelum jam tidur untuk berinteraksi langsung dengan buah hati. Aktivitas sederhana seperti membacakan buku cerita atau mendengarkan keluh kesah anak terbukti mampu menciptakan memori inti yang membekas kuat.

Lebih lanjut, Anisya mengingatkan bahwa anak merupakan pengamat sekaligus peniru yang sangat ulung terhadap segala perilaku orang tuanya di rumah. "Yang diingat anak-anak itu seberapa lama dalam satu hari itu ayahnya ngobrol sama aku," tucapnya menekankan esensi komunikasi dua arah. Ketika seorang ayah mampu memberikan keteladanan yang baik, anak akan merasa tervalidasi secara emosional dan memiliki lingkungan yang aman.

Ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat mengenai pentingnya penguatan ketahanan keluarga di era modern saat ini. Menjadi orang tua yang inspiratif memerlukan proses belajar yang tiada henti serta kerelaan untuk menurunkan ego demi kebaikan anak. Melalui edukasi yang konsisten, diharapkan tidak ada lagi anak yang merasa kehilangan sosok pelindung utama di dalam rumah mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....