Hilirisasi dan Kemasan Modern Jadi Kunci Produk Hasil Hutan Berdaya Saing
- 02 Jul 2026 14:32 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Kalimantan Selatan masih menghadapi tantangan, terutama pada aspek pemasaran dan pengemasan produk. Kondisi tersebut menyebabkan banyak produk lokal belum mampu bersaing secara optimal di pasar yang lebih luas.
Hal tersebut disampaikan pakar teknologi hasil hutan Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Ir. Zainal Abidin, M.P., dalam siaran "Green Radio" RRI Pro1 Banjarmasin, Minggu, 27 Juni 2026. Menurutnya, komoditas seperti madu kelulut dan kopi Meratus memerlukan inovasi hilirisasi agar memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi.
“Kita harus berani mengambil langkah yang agak beda dalam pengemasan. Hal ini agar produk kita diminati pasar modern,” ujar Zainal.
Ia mencontohkan madu hutan yang masih banyak dipasarkan menggunakan botol plastik bekas sehingga kurang menarik dan kurang praktis bagi konsumen. Menurutnya, penggunaan kemasan yang lebih modern dapat meningkatkan nilai jual sekaligus memperluas peluang pemasaran.
Zainal juga menyoroti berbagai inovasi yang telah dikembangkan di Kalimantan Selatan, seperti pengolahan kulit kayu manis menjadi sirup herbal serta pemanfaatan limbah purun menjadi suvenir. Menurutnya, diversifikasi produk mampu meningkatkan nilai ekonomi tanpa menghasilkan limbah yang merusak lingkungan.
Dalam mendukung hilirisasi, Zainal menilai keterlibatan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) sangat diperlukan. Perusahaan dapat berperan sebagai mitra pendamping bagi kelompok tani hutan melalui penyediaan teknologi dan penguatan kapasitas usaha.
“Dukungan berupa pemberian teknologi pengolahan dan modal akan lebih efektif. Hal ini dibandingkan sekadar memberikan bantuan uang tunai,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memberikan pendampingan serta membuka akses pasar bagi para pelaku usaha hasil hutan bukan kayu. Menurutnya, petani memerlukan kepastian pemasaran agar hasil panen memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.
“Sinergi yang kuat antara regulasi pemerintah dan pemanfaatan media sosial akan mempercepat pengenalan produk unggulan daerah,” ujarnya. “Langkah tersebut juga dapat memperluas jangkauan pasar hingga tingkat nasional.”
Zainal menambahkan, pengembangan ekonomi hijau harus dilakukan dengan memanfaatkan potensi hutan tanpa merusak ekosistemnya. Menurutnya, kelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan melalui pengelolaan yang berkelanjutan.
“Konsepnya adalah memanfaatkan hasil hutan secara maksimal. Tanpa harus merusak ekosistem hutan itu sendiri,” kata Zainal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....