Fenomena Migrasi Konsumen BBM, Pertamina Jamin Pasokan Pertalite Aman
- 18 Jun 2026 19:27 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kekhawatiran terjadinya lonjakan migrasi pengguna Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax ke BBM subsidi jenis Pertalite sempat mencuat di tengah masyarakat. Hal ini menyusul adanya langkah penyesuaian harga produk Pertamax yang resmi diberlakukan sejak 10 Juni 2026 lalu.
Lonjakan harga Pertamax yang mencapai sekitar 31 persen tersebut memicu fenomena pergeseran konsumsi di tengah masyarakat. Pasalnya, harga Pertamax di wilayah Kalimantan Selatan kini menyentuh angka Rp17.000 per liter dari harga sebelumnya yang sebesar Rp12.900 per liter.
Selisih harga yang jauh ini akhirnya menjadi alasan utama bagi sejumlah konsumen untuk mengubah pola konsumsi BBM mereka. Salah seorang warga, Subhan, mengaku terpaksa beralih menggunakan Pertalite demi menyiasati biaya pengeluaran harian.
"Biayanya jadi terlalu besar. Makanya lebih memilih mengantre lama saja mengisi Pertalite," ujarnya Rabu, 10 Juni 2026.
Subhan yang setiap harinya harus melakukan perjalanan keluar daerah ini mengaku harus memutar otak agar biaya operasionalnya tetap mencukupi. Dalam satu hari, ia setidaknya memerlukan minimal delapan liter bahan bakar untuk mendukung mobilitas kerjanya.
"Kalau dipaksakan tetap pakai Pertamax, pengeluaran bisa lebih dari Rp100.000. Sedangkan dari kantor cuma dapat jatah uang jalan Rp50.000," katanya menambahkan.
Dilema yang dihadapi oleh Subhan tersebut mencerminkan dinamika riil yang kini terjadi di lapangan. Menanggapi kondisi itu, Sales Area Manager Retail Pertamina Kalsel, Bondan Tri Wibowo, membenarkan adanya perubahan pola konsumsi namun dalam skala yang tidak signifikan.
"Memang benar terjadi pergeseran konsumsi BBM di tengah masyarakat. Namun kami rasa masyarakat Kalsel sudah cukup memahami penggunaan BBM sesuai jenis kendaraannya," katanya kepada RRI pada Rabu, 17 Juni 2026.
Berdasarkan hasil pantauan selama seminggu usai penyesuaian harga, Bondan menyebut kenaikan penggunaan Pertalite hanya berada di kisaran angka sekitar 7 persen. Kondisi pergeseran yang terhitung rendah ini diklaim tidak memberikan dampak yang berarti bagi ketersediaan stok di daerah.
"Di depot kami di Banjarmasin dan Kotabaru stok masih sangat mencukupi sesuai kapasitas penyimpanan. Kita selalu jaga ketersediaan stok dan juga saat ini masih terus bertambah karena ada kapal tanker yang berdatangan terus," ucap Bondan.
Dengan kondisi yang terpantau stabil ini, Pertamina mengimbau masyarakat agar tidak perlu panik ataupun khawatir akan potensi terjadinya kelangkaan Pertalite. Masyarakat juga diimbau untuk tetap bijak dalam menggunakan bahan bakar demi memastikan pasokan energi di Kalimantan Selatan tetap terjaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....