Kenakalan Remaja Makin Marak, Pemko Banjarmasin Jajaki MoU Bersama Rindam
- 17 Jun 2026 15:32 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Meningkatnya kasus kenakalan remaja di Kota Banjarmasin membuat Pemerintah Kota Banjarmasin menyiapkan langkah tegas. Tak hanya pelaku balap liar dan tawuran, remaja yang terbukti melakukan perbuatan asusila di ruang publik juga bakal digembleng melalui program pembinaan di barak militer.
Wacana tersebut kembali ditegaskan Wali Kota Banjarmasin, H. M. Yamin HR, menyusul maraknya perilaku menyimpang di kalangan remaja. Yamin menegaskan persoalan kenakalan remaja kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan telah dibahas bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
“Hal in menjadi perhatian serius kita. Bagi mereka yang melakukan hal-hal yang dianggap melanggar etika dan moral akan dimasukkan ke program itu,” kata Yamin, Rabu, 17 Juni 2026.
Program pembinaan tersebut mengadopsi pola yang lebih dulu diterapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sasaran utamanya adalah remaja yang terlibat balap liar, tawuran, membuat keributan, hingga pelaku tindakan asusila yang meresahkan masyarakat.
Menurut Yamin, sebelum program dijalankan, Pemko Banjarmasin akan lebih dahulu melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Komandan Resimen Induk Komando Daerah Militer (Danrindam). Setelah kerja sama resmi terjalin, Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Banjarmasin akan ditugaskan mengoordinasikan pelaksanaan program tersebut.
“BKPSDM nanti akan mengoordinasikan supaya anak-anak yang melakukan kenakalan remaja dimasukkan ke dalam barak militer. Sebelumnya akan lebih dahulu ada penandatanganan nota kesepahaman (MoU),” ujarnya.
Namun demikian, realisasi program itu masih bergantung pada kesiapan anggaran. Pemko berencana mengintegrasikan pembiayaan program pembinaan remaja dengan sejumlah pos pembinaan yang sudah tersedia serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Yamin menepis anggapan bahwa pembinaan di barak militer hanya berisi latihan fisik, melainkan juga pembentukan karakter, mental, dan kedisiplinan peserta. Selama masa pembinaan, para remaja akan mendapatkan pelatihan disiplin, penguatan kepribadian, hingga pendidikan keagamaan dan kerohanian.
“Harapannya mereka sadar bahwa masa depan mereka masih panjang dan bisa kembali ke jalan yang benar. Mereka akan mendapatkan pelatihan disiplin, penguatan kepribadian, hingga pendidikan keagamaan dan kerohanian,” ucapnya.
Meski demikian, Yamin menegaskan upaya menekan kenakalan remaja tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau sekolah. Peran keluarga, khususnya orangtua, tetap menjadi benteng utama dalam mengawasi dan membimbing anak-anak mereka.
“Pembinaan ini merupakan tanggung jawab bersama. Tidak bisa hanya pemerintah, kepala sekolah atau guru saja. Orangtua di rumah juga harus terus mengingatkan dan mengawasi anak-anaknya,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....