Persoalan Ruang Jalan, Limbah, dan Kesadaran Lingkungan di Banjarmasin
- 01 Jun 2026 13:44 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Berbagai persoalan di jalanan masih menjadi keluhan masyarakat di Kota Banjarmasin. Di antaranya parkir yang memakan bahu jalan, limbah yang menimbulkan bau tak sedap, hingga pemanfaatan jalan untuk menjemur hasil pertanian dan perikanan.
Hal tersebut disampaikan oleh Faisal Embron, Ibrahim, S.H., dan Leon Rahman dalam acara Ragam Budaya Suluh Banua di RRI Pro4 Banjarmasin. Ketiganya menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan ruang publik secara bijak dan sesuai fungsi.
Sebagai pegiat budaya, Faisal Embron menyoroti masih adanya penggunaan jalan yang tidak sesuai fungsinya. Ia menyebut di beberapa wilayah Kalimantan Selatan masih terdapat tradisi malabang banih atau menjemur padi di ruang terbuka.
“Budayanya memang bagus, tetapi karena dilakukan di bahu jalan, hal itu mengganggu pengguna jalan lainnya,” ujar Faisal Embron. “Selain padi, hasil tangkapan nelayan seperti iwak sapat juga sering dijemur di bahu jalan, sehingga menimbulkan gangguan bagi pengguna jalan.”
Sementara itu, konten kreator Leon Rahman menyoroti persoalan bau tidak sedap di kawasan Banjarmasin Selatan yang diduga berasal dari pembuangan limbah ayam potong. Menurutnya, kondisi tersebut telah lama dikeluhkan warga sekitar dan mengganggu aktivitas masyarakat.
“Aroma tak sedap itu sangat mengganggu warga yang tinggal di sekitar lokasi,” ujarnya. “Termasuk para pengendara yang melintas di kawasan tersebut karena dampaknya cukup luas.”
Ia menambahkan, konten yang dibuatnya terkait persoalan tersebut mendapat perhatian publik hingga ditindaklanjuti oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin. Respons tersebut dinilai menjadi bukti bahwa media sosial dapat membantu mempercepat penanganan keluhan masyarakat.
“Bersyukur sekali, lewat konten itu petugas cepat merespons keluhan warga terkait dampak limbah di lapangan,” ujarnya. “Tindak lanjut tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap persoalan yang terjadi di masyarakat.”
Sementara itu, pegiat lingkungan sungai Ibrahim, S.H., menilai persoalan tersebut berkaitan erat dengan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan ruang publik. Ia menegaskan bahwa jalan bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga bagian dari wajah daerah yang harus dijaga bersama.
Menurutnya, budaya tertib dan rasa memiliki terhadap lingkungan perlu terus ditanamkan di tengah masyarakat. Hal tersebut dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan tertata.
“Jika masyarakat menganggap jalan sebagai ruang bersama, maka rasa peduli akan tumbuh dengan sendirinya,” ujar Ibrahim. “Kesadaran itu akan membuat ruang publik lebih tertib dan tidak saling merugikan.”
Ia juga menegaskan pentingnya kesadaran bersama agar persoalan parkir semrawut, penyalahgunaan bahu jalan, hingga limbah di ruang publik dapat diatasi. Tanpa kesadaran kolektif, menurutnya, berbagai persoalan tersebut akan terus berulang.
“Jangan sampai ruang jalan beralih fungsi karena tidak hanya mengganggu kenyamanan,” kata Ibrahim. “Tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....