Ibu Sebagai Madrasah Pertama Anak
- 24 Mei 2026 05:57 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tanggung jawab mendidik anak tak jarang menghadapi tantangan pelik ketika figur salah satu orang tua tidak hadir secara utuh. Isu krusial ini dibedah secara tajam dalam siaran Kuliah Subuh Pro 1 RRI Banjarmasin pada Jumat 22 Mei 2026.
Prof. H. Abdul Basir dalam siaran tersebut merespons keresahan segelintir orang tua yang tega menelantarkan anak akibat mementingkan urusan pribadi. Ia dengan tegas mengingatkan bahwa ikatan akad nikah membawa tanggung jawab besar bagi suami istri untuk mendidik anak dan memberikan nafkah.
"Penelantaran keluarga merupakan sebuah dosa besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban secara ketat di pengadilan Allah SWT. Ketika figur seorang ayah kurang berperan, sosok ibu harus mengambil alih kemudi secara utuh sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya," kata ustaz Abdul Basir.
Dalam literatur sejarah Islam, peran penting ibu ini sangat lekat dengan istilah Al-Ummu Madrasatul Ula yang bermakna sekolah pertama bagi sang anak. Sejarah membuktikan bahwa banyak ulama besar, seperti Imam Syafi'i, berhasil mencapai puncak keilmuan berkat pengorbanan dan didikan penuh dari seorang ibu tunggal.
Ustadz Abdul Basir juga membagikan solusi aplikatif bagi para orang tua modern yang memiliki intensitas kesibukan tinggi. Mereka sangat disarankan mencari waktu emas yang berkualitas, misalnya seusai pelaksanaan salat subuh, untuk memberikan wejangan atau nasihat singkat.
"Momen komunikasi santai tersebut sangat efektif untuk memupuk kedisiplinan beribadah dan menanamkan akhlakul karimah kepada sang buah hati," ujarnya.
Pembiasaan ibadah salat sejak usia dini juga menjadi fokus paling utama dalam pendidikan informal yang diajarkan oleh Rasulullah. Anak-anak idealnya sudah mulai diperkenalkan dan perlahan diajak melaksanakan salat ketika mereka memasuki usia tujuh tahun dengan pendekatan yang penuh kelembutan.
"Jika pada rentang usia sepuluh tahun mereka masih enggan beribadah, orang tua diberikan kelonggaran untuk memberi ketegasan demi membentuk disiplin diri mereka," ucapnya, mengingatkan.
Di tengah gempuran tren media sosial saat ini, degradasi adab anak terhadap orang tuanya menjadi fenomena pergaulan yang sangat memprihatinkan. Keteladanan melalui ucapan dan perbuatan orang tua sejatinya adalah tameng utama melawan pengaruh buruk dari internet.
"Apabila seorang anak bersikap keras atau membangkang, orang tua dituntut untuk mengutamakan introspeksi diri alih-alih meresponsnya secara reaktif dengan luapan amarah," katanya.
Doa tulus terutama dari seorang ibu maupun ayah diyakini memiliki kekuatan luar biasa yang dapat menembus batas langit demi melembutkan hati anak. Kesabaran, kasih sayang tak bersyarat, dan kelembutan murni pada akhirnya menjadi penentu keberhasilan orang tua dalam menjalankan amanah sepanjang hayat ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....