Tantangan Membangun Budaya Pilah Sampah

  • 05 Mei 2026 16:51 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Membangun budaya pilah sampah di tengah masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan, meskipun banyak orang menganggap hal tersebut penting. Perubahan pola pikir dan kebiasaan menjadi kunci utama dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan oleh Iberahim, S.H dan Fina Liana dalam acara Ragam Budaya Suluh Banua, Minggu, 3 Mei 2026 di RRI Pro4 Banjarmasin. Keduanya menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat dalam membangun budaya memilah sampah sejak dari rumah.

Menurut Iberahim, masyarakat Banjar sebenarnya telah memiliki budaya memilah sampah secara tidak langsung. Contohnya, kulit cempedak yang diolah menjadi mandai, serta eceng gondok atau ilung yang dimanfaatkan menjadi berbagai kerajinan.

Ia menjelaskan, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah bukan hanya soal fasilitas, tetapi perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Kesadaran individu untuk tidak membuang sampah sembarangan menjadi hal yang sangat penting.

“Yang sering dipersoalkan adalah kurangnya tempat sampah, padahal kesadaran jauh lebih penting. Tanpa niat, fasilitas yang ada pun tidak akan efektif,” ujar Iberahim.

Sementara itu, Fina Liana menekankan peran generasi muda sebagai agen perubahan dalam membangun budaya pilah sampah. Menurutnya, remaja lebih mudah menerima kebiasaan baru dan dapat menjadi contoh di lingkungan sekitarnya.

Ia menambahkan, berbagai jenis sampah sebenarnya dapat didaur ulang jika dikelola dengan baik. Sampah organik seperti sisa sayur dapat diolah menjadi pupuk, sementara sampah plastik bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan atau didaur ulang kembali.

“Semua sampah bisa didaur ulang. Sisa sayur dan sejenisnya bisa diolah menjadi pupuk, sementara sampah plastik dapat dijadikan kerajinan tangan atau didaur ulang kembali,” ucap Fina.

Fina yang tergabung dalam Organisasi Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih Kota Banjarmasin sejak 2025 juga mengungkapkan bahwa masih ada anggapan di masyarakat bahwa sampah adalah sesuatu yang kotor dan tidak bernilai. Padahal, jika dikelola dengan baik, sampah dapat memiliki nilai ekonomi.

“Pola pikir dalam pengelolaan sampah itu yang paling utama. Soal fasilitas bisa diupayakan, tetapi kesadaran harus datang dari diri sendiri,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....