Jangan Jadi Pajangan! Pemko ‘Tantang’ Duta GenRe Lawan AI Nakal dan Krisis Moral
- 30 Apr 2026 08:18 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Pesan keras dilontarkan Pemerintah Kota Banjarmasin kepada generasi muda. Remaja diminta berhenti menjadi sekadar objek program, dan mulai mengambil peran sebagai motor perubahan di tengah ancaman nyata era digital yang kian liar.
Penegasan itu disampaikan Wali Kota Banjarmasin, H. M. Yamin HR, melalui Asisten I Setdako, Lukman Fadlun, saat menghadiri Grand Final Pemilihan dan Apresiasi Duta Generasi Berencana (GenRe). Selain dituntut memahami perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi, generasi muda juga harus siap menghadapi ancaman baru di era digital, termasuk penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Remaja tidak boleh sekadar menjadi objek, tetapi harus mampu menjadi subjek perubahan dan penggerak pembangunan di tengah masyarakat. Tidak bisa kita tutup mata, ada penyalahgunaan teknologi AI untuk hal tidak senonoh yang mengancam privasi,” katanya.
Menurutnya, Duta GenRe tidak cukup hanya tampil sebagai simbol atau ikon kampanye semata dan mereka harus menjadi garda terdepan dalam membangun kesadaran etika digital di kalangan remaja. Bahkan secara khusus mendorong para finalis untuk berani berinovasi, termasuk dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi sesama remaja.
“Mereka tidak hanya dipersiapkan untuk mengedukasi masa depan keluarga yang terencana, namun kita ingin para remaja ini bisa menjadi garda terdepan dalam edukasi etika digital. Makanya kita dorong para Duta GenRe agar berinovasi dan mengantisipasi penggunaan teknologi atau perangkat lunak yang aman,” tambahnya.
Namun ajang seperti ini kerap dinilai hanya menghasilkan figur-figur simbolik tanpa dampak berkelanjutan di lapangan. Menanggapi hal itu, Kepala Dinas PPKBPM Banjarmasin, Helfianoor, menegaskan bahwa orientasi program tidak berhenti di panggung pemilihan.
“Ajang ini bukan untuk mencari siapa yang terbaik. Tapi bagaimana para Duta GenRe ini siap berkontribusi dan turun langsung ke sekolah-sekolah,” ujarnya.
Ia menyebut, sebanyak 78 peserta telah melalui seleksi ketat hingga akhirnya terpilih 10 pasang finalis. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang nyata, bukan sekadar gelar seremonial. “Yang kita dorong adalah bagaimana mereka bisa mengajak teman-temannya memiliki pola pikir positif dan maju,” ucapnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....