Mimbar Agama Katolik Kupas Makna 40 Hari Penampakan Yesus
- 29 Apr 2026 09:12 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Misteri kebangkitan Yesus Kristus kembali didalami dalam Mimbar Agama Katolik RRI Kalimantan Selatan dengan tema “Ke mana saja Yesus 40 hari setelah bangkit?”. Renungan yang disiarkan melalui RRI Pro 1 dan kanal YouTube RRI Kalimantan Selatan ini menghadirkan RD. Ignatius Allparis Freeanggono, RP. Managamtua Hery Berthus SJ., dan RP. Apolonius Wensy Wowor MSC.
Dalam perbincangan tersebut, para narasumber menegaskan bahwa selama 40 hari setelah kebangkitan, Yesus tidak “gentayangan” sebagaimana anggapan yang berkembang di sebagian masyarakat, melainkan menampakkan diri secara nyata kepada para murid-Nya. Penampakan tersebut tercatat dalam Kitab Suci, seperti kepada Maria Magdalena, dua murid di Emaus, hingga para rasul yang berkumpul dalam ketakutan.
“Selama 40 hari itu Yesus berkali-kali menampakkan diri. Ini menegaskan bahwa Ia sungguh bangkit, bukan sekadar kehadiran roh,” jelas RP. Managamtua Hery Berthus SJ. dalam dialog tersebut.
Selain itu, dijelaskan bahwa penampakan Yesus terjadi di berbagai tempat seperti Galilea, Yerusalem, hingga di pantai Tiberias. Bahkan, Ia juga menampakkan diri kepada lebih dari 500 orang. Hal ini menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus merupakan peristiwa nyata yang memberi peneguhan iman kepada para pengikut-Nya.
RP. Apolonius Wensy Wowor MSC menambahkan bahwa kehadiran Yesus yang bangkit bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, pesan pertama yang selalu disampaikan adalah “jangan takut”.
Menurutnya, hal ini mencerminkan bahwa kebangkitan membawa damai dan pengharapan, bukan ketakutan. “Dalam setiap penampakan, Yesus tidak datang dengan kemarahan, tetapi dengan damai sejahtera. Ia menguatkan para murid yang sebelumnya diliputi rasa takut,” ujarnya.
Lebih lanjut, para narasumber juga menyoroti bahwa selama 40 hari tersebut Yesus mempersiapkan para murid untuk melanjutkan misi pewartaan Injil. Salah satunya melalui perutusan agung, yakni perintah untuk pergi ke seluruh dunia dan menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya.
Selain itu, perubahan simbol dari “penjala manusia” menjadi “gembala domba” juga dijelaskan sebagai tanda bahwa para murid tidak hanya dipanggil untuk mengumpulkan umat. Tetapi juga merawat dan membimbing mereka dalam iman.
Menariknya, dalam perbincangan juga ditegaskan bahwa Yesus yang bangkit tetap menunjukkan identitas-Nya yang sama, bahkan dengan bekas luka penyaliban. Ia makan bersama para murid dan dapat disentuh, sebagai bukti bahwa kebangkitan-Nya adalah kebangkitan tubuh, bukan sekadar spiritual.
RD. Ignatius Allparis Freeanggono menekankan bahwa pesan kebangkitan Yesus tetap relevan hingga saat ini. Khususnya dalam konteks kehidupan umat beriman.
“Pesan ‘jangan takut’ menjadi ajakan untuk membawa damai di tengah dunia yang penuh konflik. Iman akan kebangkitan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Menutup renungan, umat diajak untuk semakin memperdalam iman akan kebangkitan Kristus serta berani menjalankan perutusan sebagai saksi di tengah masyarakat. Melalui peristiwa 40 hari setelah kebangkitan, umat diingatkan bahwa Yesus senantiasa hadir, menyertai, dan menguatkan umat-Nya sepanjang zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....