Menunggu Rezeki di Tepi Jalan: Kisah Rudi Tambal Ban

  • 27 Apr 2026 13:39 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Di tengah deru kendaraan yang tak pernah berhenti di Jalan A. Yani Km. 3 Banjarmasin, seorang pria kurus dengan topi lusuh duduk setia di tepi jalan. Ia menunggu bukan sekadar pelanggan, tapi juga secercah harapan yang mungkin datang bersama setiap roda yang kempes. Senin, 27 April 2026.

Matahari sedikit meredup dan riuh klakson bersahutan, kendaraan melaju tanpa jeda, dan debu jalanan beterbangan. Di antara hiruk-pikuk itu, Rudi, pria kelahiran 1969, tetap duduk di tempatnya sebuah sudut sederhana yang ia sebut sebagai tempat usaha. Tak ada bangunan permanen, hanya sebuah kompa tangan dan dan peralatan tambal ban sederhana serta plang kecil dari ban bekas bertuliskan “Tambal Ban Dalam.” Itulah modalnya bertahan hidup.

Rudi mengenakan kaos lengan panjang yang mulai pudar warnanya, serta topi lusuh yang setia melindungi kepalanya dari panas. Tatapannya menyapu jalan, berharap ada pengendara yang menepi membutuhkan jasanya.

Dengan senyum ramah, ia mulai bercerita. Usaha tambal ban ini sudah ia tekuni sejak tahun 1995. Saat itu, satu tambalan dihargai Rp500. Meski terlihat kecil, penghasilannya cukup untuk bertahan hidup. “Dulu itu gampang cari uang. Sehari bisa dapat sepuluh sampai lima belas ribu, sudah bisa dibawa pulang,” ucapnya sambil mengenang cerita masa lalu.

Namun waktu berjalan, dan keadaan tak lagi sama. Kini, penghasilan tak menentu. Ia bahkan tak memiliki jam pasti untuk memulai pekerjaan. “Kadang jam tujuh, kadang jam delapan pagi baru buka. Kalau ada rezeki, alhamdulillah. Tapi sering juga sampai jam dua malam masih di sini, berharap bisa bawa uang pulang,” ucap Rudi, tersenyum tipis.

Tak jarang, harapan itu tak terwujud. Jika tak mendapatkan penghasilan, Rudi memilih tidak pulang. Ia lebih sering singgah di warung kawasan Pekapuran, sekadar beristirahat dan memejamkan mata hingga subuh. “Kalau ada uang, biasanya langsung pulang. Tapi kalau tidak, ya sering tidak pulang,” katanya lirih.

Dengan ijazah terakhir SMP, peluang kerja terasa sempit. Ia pernah menjadi buruh angkut di Pasar Lima Banjarmasin. Namun usia dan kondisi fisik yang tak lagi kuat membuatnya harus berhenti. “Pernah juga coba kerja bangunan, tapi ditolak karena sudah dianggap tua,” ujarnya, diiringi tawa kecil yang menyimpan getir.

Di balik kesederhanaannya, Rudi menyimpan penyesalan. Dulu, seorang teman pernah menawarinya bekerja di bengkel. Namun ia menolak, karena usaha tambal bannya saat itu masih ramai.

“Kalau saja dulu saya terima, mungkin sekarang sudah punya bengkel sendiri. Tidak cuma tambal ban seperti ini,” ucapnya, menatap jalan yang terus bergerak.

Angin siang berhembus pelan. Kendaraan tetap lalu-lalang. Dan Rudi masih di sana setia menunggu, seperti hari-hari sebelumnya. Di tengah kerasnya kehidupan, Rudi mengajarkan satu hal sederhana: bahwa bertahan adalah bentuk keberanian paling nyata. Sebab bagi sebagian orang, harapan bukan tentang mimpi besar melainkan tentang tetap duduk, tetap menunggu, dan tetap percaya bahwa rezeki akan datang, meski tak selali tepat waktu,

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....