Menjaga Marwah Literasi di tengah Rendahnya Minat Baca

  • 23 Apr 2026 15:42 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin — Wali Kota Banjarmasin, H. M. Yamin HR, menyoroti persoalan rendahnya minat baca yang masih menjadi hambatan dalam menghadapi derasnya arus informasi digital. Hal itu ditegaskannya dalam kegiatan Bunda Literasi 2026.

Dalam sambutannya, Yamin menegaskan bahwa persoalan literasi tidak bisa lagi dipandang sebagai isu tambahan. Tanpa kemampuan literasi, diakui Yamin Banjarmasin akan tertinggal bukan karena tidak punya potensi, tetapi karena tidak mampu mengolah informasi dengan baik

“Kemampuan literasi hari ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar. Tanpa itu, kita akan tertinggal bukan karena tidak punya potensi, tetapi karena tidak mampu mengolah informasi dengan baik,” ujarnya.

Semangat Kartini, menurut Yamin, bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga pendidikan dan pemberdayaan perempuan sebagai fondasi keluarga literat. "Literasi harus menjadi budaya, bukan sekadar program,” ujarnya.

Lebih jauh, Wali Kota juga mendorong langkah konkret yang bisa langsung diterapkan masyarakat. Seperti membaca 15 menit setiap hari di rumah, orang tua membacakan cerita, menyediakan pojok baca, hingga meningkatkan literasi digital keluarga.

“Pengelolaan sampah dari sumber sebagai bagian dari literasi lingkungan juga penting. Hal ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya bicara soal teks, namun juga tentang kesadaran hidup dan pola pikir,” ujarnya.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banjarmasin ini dihadiri sekitar 100 peserta. Terdiri dari Bunda Literasi lima kecamatan dan 52 kelurahan, hingga pegiat literasi.

Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Banjarmasin Ikhsan Alhak menjelaskan bahwa kolaborasi lintas sektor ini bukan kali pertama dilakukan. Ia mengklaim, sejak pelantikan Bunda Literasi di tingkat kota hingga kelurahan, kegiatan serupa terus kami dorong.

“Kolaborasi lintas sektor ini bukan kali pertama dilakukan. Hari ini menjadi lanjutan dalam bentuk penguatan peran melalui ceramah dan arahan langsung,” katanya.

Ia menilai keberlanjutan program menjadi kekuatan utama, meski tantangan di lapangan masih cukup kompleks. Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis kebiasaan, pemerintah berharap gerakan literasi di Banjarmasin tidak berhenti pada kegiatan tahunan, tetapi benar-benar mengubah pola pikir masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....