Pokok Keimanan dan Perbedaan dalam Islam yang Tidak Membatalkan Akidah
- 10 Apr 2026 15:26 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Kuliah Subuh RRI Pro1 Banjarmasin membahas pokok keimanan dan perbedaan dalam Islam.
- Narasumber Ustaz Dr. Norhidayat, M.A., menegaskan pentingnya memahami akidah dasar Islam.
- Pokok keimanan meliputi tauhid, kerasulan, Al-Qur’an, hari akhir, dan takdir Allah Swt.
- Umat Islam diingatkan agar tidak mudah mengkafirkan orang lain karena perbedaan pendapat.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Program Kuliah Subuh di RRI Pro 1 Banjarmasin, Jumat, 10 April 2026, mengangkat tema pokok keimanan dan perbedaan yang tidak membatalkan keimanan. Siaran ini menghadirkan narasumber Ustaz Dr. Norhidayat, M.A., akademisi UIN Antasari Banjarmasin.
Ustaz Norhidayat menekankan pentingnya memahami batas antara pokok dan cabang dalam ajaran Islam. Menurutnya, dalam Islam terdapat prinsip-prinsip dasar yang wajib diyakini oleh seluruh umat Muslim.
Prinsip tersebut meliputi tauhid kepada Allah, kerasulan Nabi Muhammad saw., keimanan kepada wahyu Alquran, hari akhir, dan takdir Allah. Seluruh pokok keimanan itu menjadi fondasi utama dalam akidah Islam.
“Selama seseorang masih beriman pada pokok-pokok keimanan dalam Islam, ia tetap berada dalam Islam,” ujar Ustaz Norhidayat. Ia menegaskan, umat Islam tidak boleh mudah menganggap orang lain keluar dari agama hanya karena perbedaan pandangan.
Ia menjelaskan, perbedaan di kalangan ulama umumnya terjadi pada perkara cabang atau furu’. Perbedaan tersebut muncul karena variasi tafsir, metode, serta pendekatan dalam memahami dalil.
Contoh perbedaan itu antara lain dalam memahami sifat Allah, perbuatan manusia, status pelaku dosa besar, serta perkara gaib seperti azab kubur dan syafaat. Meski berbeda pandangan, hal tersebut tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.
Ustaz Norhidayat menilai pembahasan ini penting untuk menjaga persatuan umat. Ia mengingatkan agar umat tidak terjebak pada perbedaan kecil atau furu’ hingga melupakan pokok ajaran Islam.
“Umat Islam perlu bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan dan menghormati pandangan ulama,” ujarnya. “Perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....