Fenomena "Resign" Massal, Tantangan Baru Dunia Kerja di Era Generasi Muda
- 08 Apr 2026 07:43 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Fenomena resign massal di sektor swasta menjadi sinyal perubahan besar dalam dunia kerja.
- Generasi muda kini menuntut pertumbuhan cepat, makna kerja yang jelas, dan fleksibilitas, bukan sekadar loyalitas.
- Dampak resign massal dirasakan perusahaan, termasuk meningkatnya beban kerja, gangguan proyek, dan biaya rekrutmen tinggi.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Fenomena resign massal di sektor swasta menjadi sinyal perubahan besar dalam dunia kerja. Hal ini disampaikan Anggota Himpunan Psikolog Indonesia Kalsel sekaligus Asosiasi Psikolog Industri dan Organisasi, M. Luthfi Fernando, M.Psi., Psikolog, dalam Ngobrol Bareng Komunitas RRI Pro1 Banjarmasin, Selasa malam 7 April 2026.
Luthfi menjelaskan, perubahan tren karier saat ini tidak lagi semata soal loyalitas, tetapi lebih pada perbedaan ekspektasi antara karyawan dan perusahaan. Generasi muda kini menuntut pertumbuhan cepat, makna kerja yang jelas, serta fleksibilitas dalam menjalani pekerjaan.
“Ini bukan soal loyalitas yang hilang, tapi ekspektasi yang berubah dari generasi sekarang,” ujar M. Luthfi Fernando. “Mereka ingin berkembang lebih cepat dan merasa pekerjaannya punya arti, bukan sekadar bertahan lama.”

Menurutnya, keputusan resign karyawan biasanya sudah dipertimbangkan jauh hari sebelum dieksekusi, bukan mendadak. Banyak resign terjadi setelah momen tertentu seperti Lebaran, yang dianggap waktu paling aman untuk mengambil keputusan.
“Keputusan resign biasanya sudah dipikirkan 3 sampai 6 bulan sebelumnya,” ucap Luthfi. “Momen seperti setelah THR hanyalah waktu yang tepat untuk mengeksekusi keputusan itu.”
Ia menambahkan, dampak resign massal tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga mengguncang stabilitas perusahaan. Beban kerja bertambah bagi yang bertahan, proyek terganggu, dan biaya rekrutmen meningkat signifikan.
“Yang paling sering keluar justru high performer karena mereka cepat melihat tidak ada masa depan di perusahaan,” kata Luthfi. “Mereka tidak banyak bicara, tapi ketika pergi, dampaknya sangat besar.”
Perubahan ini mendorong perusahaan beralih dari pendekatan human resource tradisional menuju human capital yang lebih menghargai karyawan sebagai aset. Perusahaan dituntut menyediakan pengembangan diri, lingkungan kerja sehat, dan sistem karier yang jelas agar tetap kompetitif di tengah dinamika dunia kerja.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....