Tren Busana Modern Menurut Tuntunan Al-Qur’an
- 04 Apr 2026 12:03 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin: Di tengah tren busana yang terus berkembang, konsep berpakaian dalam Islam kembali menjadi sorotan. Hal itu disampaikan dalam dialog Kuliah Subuh di RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 3 April 2026.
Ustaz Riza Saputra, S.Th.I., M.A., menegaskan bahwa Al-Qur’an memberikan pedoman lengkap tentang “dresscode” terbaik yang tidak hanya menutup aurat, tetapi juga mencerminkan nilai ketakwaan. Ia menyampaikan pepatah Arab yang menekankan keseimbangan antara penampilan dan intelektualitas.
“Keindahan seseorang terlihat dari pakaiannya, dan kesempurnaan terletak pada akalnya,” ujarnya.
Ia mengaitkan tren busana modern dengan tuntunan Al-Qur’an agar masyarakat memahami tujuan berpakaian secara benar. Penekanan ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan penampilan dan nilai spiritual dalam berbusana.
Ustaz Riza mengutip Surah Al-A’raf ayat 26 yang menjelaskan dua dimensi pakaian dalam Islam, yakni lahiriah dan batiniah. Pakaian lahiriah menutup aurat (libas) dan berfungsi sebagai perhiasan (risy), sedangkan pakaian batiniah, “libasut taqwa,” menjadi yang paling utama.
“Pakaian takwa terdiri dari iman, amal saleh, dan rasa malu,” kata Ustaz Riza.
Hal itu disebut Al-Qur’an sebagai pakaian terbaik yang membentuk akhlak dan karakter seorang Muslim. Pakaian tersebut mencerminkan ketakwaan serta kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, ia menyinggung pandangan ulama klasik seperti Imam Fakhruddin Ar-Razi yang menekankan bahwa pakaian merupakan bagian dari ibadah. Menutup aurat dianggap sebagai kewajiban kepada Allah Swt dan bukti keimanan seorang Muslim.
Ia menyoroti kondisi masyarakat Arab pada masa Jahiliyah yang mengabaikan fungsi pakaian sebagai penjaga kehormatan. Praktik tawaf tanpa busana menjadi salah satu latar belakang turunnya perintah dalam Surah Al-A’raf ayat 31 untuk membentuk peradaban yang bermartabat.
Selain itu, Ustaz Riza menguraikan konsep “sarabil” dalam Al-Qur’an yang merujuk pada pakaian sebagai pelindung fisik. Ia menekankan bahwa Islam memandang dresscode secara menyeluruh, mencakup aspek etika, estetika, dan proteksi bagi tubuh, sekaligus sebagai simbol identitas dan ketakwaan.
“Menggunakan pakaian syar’i bukan berarti kuno, melainkan bukti bahwa kita hamba Allah yang bermartabat,” ujarnya. “Pakaian menjadi tanda jati diri seorang Muslim di tengah arus globalisasi.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....