Hadapi Kemarau, Pembudi Daya Ikan Waspadai Perubahan Kualitas Air Sungai

  • 31 Mar 2026 20:19 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Perubahan kondisi air sungai yang drastis pada musim kemarau masih menjadi ancaman bagi keberlangsungan budi daya ikan keramba di Banua Anyar, Banjarmasin. Penurunan kualitas air ini menjadi risiko utama yang bisa memicu kematian massal ikan secara mendadak.

Penyuluh Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin, Roslina, mengingatkan agar para petambak lebih rajin memantau kondisi air setiap harinya. Menurutnya, meski tidak memiliki alat ukur, para pembudi daya memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam melihat tanda-tanda perubahan alam secara manual.

"Kami minta pembudi daya rajin melihat kondisi air sungai karena ini sangat menentukan nasib bibit ikan. Kalau air terlihat tenang tapi warnanya berubah, sebaiknya ikan yang sudah layak jual segera dipanen saja," katanya Senin, 30 Maret 2026.

Roslina menjelaskan suhu air yang mulai panas bisa mengganggu metabolisme ikan sehingga mereka jadi kurang bersemangat saat diberi pakan. Meski kondisi alam sulit dihindari, risikonya dapat dikurangi dengan mengatur waktu penebaran benih yang lebih tepat sesuai siklus cuaca.

Ia menyebut opsi pemindahan ikan ke kolam darat sebenarnya dapat dilakukan untuk menyelamatkan stok, namun mayoritas pembudi daya di pinggiran Sungai Martapura ini tidak memiliki fasilitas tersebut. Oleh karena itu, pihaknya terus pengecekan rutin di lapangan l guna memastikan kerugian ekonomi warga bisa ditekan seminimal mungkin.

"Selain ikan mati mendadak, bisa juga ikan yang malas makan pertumbuhannya jadi melambat dan masa panen jadi lebih panjang. Jadi pengecekan rutin sangat penting untuk meminimalkan kerugian itu," ucapnya.

Kekhawatiran serupa dirasakan oleh Qasthalani, salah seorang pembudi daya ikan yang menyebut air tenang justru sering menyimpan bahaya bagi ikan jenis bawal miliknya. Sebagai langkah antisipasi, ia memilih untuk lebih waspada dan melakukan panen lebih awal.

Langkah panen dini ini dianggap jauh lebih aman untuk menghindari ikan mati secara massal di dalam keramba. Sementara itu, beberapa pembudi daya lainnya juga mulai menyiagakan mesin pompa guna menambah pasokan oksigen bagi ikan ternak mereka.

"Kami harus waspada karena air yang terlihat tenang itu seringkali justru kurang oksigen. Setiap hari kami pantau terus kondisinya untuk antisipasi karena kejadian ikan mati mendadak hampir ada setiap tahun," ujarnya.

Tanpa adanya langkah mitigasi yang cepat dan pengawasan rutin, sektor perikanan terancam lumpuh akibat faktor alam yang sulit diprediksi. Kesigapan pembudi daya dalam membaca tanda-tanda alam kini menjadi kunci untuk menyelamatkan modal usaha mereka dari ancaman gagal panen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....