Tokoh Lintas Iman Banjarmasin Dorong Pemuda Berani Jadi Pemimpin

  • 08 Mar 2026 13:05 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Minimnya keberanian para pemuda untuk tampil sebagai pemimpin menjadi perhatian serius para tokoh lintas iman di Banjarmasin. Isu tersebut mengemuka dalam sarasehan dan buka puasa bersama yang diadakan Keuskupan Banjarmasin, LK3, dan Gusdurian pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Hal ini dinilai penting untuk segera dibenahi melalui berbagai pelatihan kepemimpinan yang terbuka bagi kaum muda di ruang publik. Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) serta Kerasulan Awam (Kerawam) Keuskupan Banjarmasin, Rm Yusuf Suharyoso SJ, menekankan upaya mendidik calon pemimpin harus dimulai sejak dini.

"Kita memberi ruang bagi orang muda, masyarakat umum khususnya yang lintas iman untuk bisa saling memberi manfaat dan berbagi pengalaman," ujarnya.

Menurutnya langkah kaderisasi ini penting agar anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi mulai berani mengambil peran di tengah masyarakat. Dengan belajar sejak dini diharapkn mental dan kapasitas mereka dapat lebih siap saat memegang tanggung jawab yang lebih besar.

Direktur Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Dani, juga menekankan bahwa menyiapkan generasi muda adalah kewajiban demi menjaga keberlanjutan kepemimpinan bangsa. Menurutnya, anak muda merupakan kelompok yang paling potensial untuk diberdayakan karena lebih cepat beradaptasi dengan perubahan zaman.

"Saat ini penting untuk menyiapkan orang-orang muda untuk melanjutkan kepemimpinan bangsa, karena mereka inilah yang bisa diberdayakan," katanya.

Sinergi ini bertujuan agar generasi sebelumnya dapat memberikan ruang dan kepercayaan bagi para pemuda untuk berkembang. Kerja sama ini dipandang penting agar estafet kepemimpinan di berbagai tingkatan tidak terputus.

Sementara itu, salah seorang pemuda katolik, Hans Rafarish, mengakui adanya tantangan berupa krisis minat di kalangan anak muda untuk menjadi pemimpin. Banyak rekan sebayanya yang memiliki potensi, namun sering kali takut untuk memimpin orang banyak.

"Dari kegiatan ini kita sangat menyadari bahwa ada faktanya memang ada krisis anak muda menjadi pemimpin," ucapnya.

Hans berpendapat bahwa kepemimpinan bisa dimulai dari hal kecil, yaitu dengan mendisiplinkan diri sendiri. Jika sudah mampu memimpin diri sendiri, diharapkan anak muda akan lebih percaya diri untuk maju menjadi pemimpin di tingkat yang lebih luas ke depannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....