Tradisi Ziarah Menguat Jelang Ramadan di Banjarbaru
- 16 Feb 2026 13:13 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarbaru - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana Komplek Pemakaman Guntung Lua, Banjarbaru, tampak lebih ramai dari hari biasa. Sejak pagi, para peziarah berdatangan membawa bunga, air, dan doa.
Langkah mereka pelan menyusuri nisan-nisan, membersihkan rumput liar, lalu duduk khusyuk memanjatkan doa bagi orang-orang tercinta yang telah lebih dahulu berpulang. Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.
Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi momentum untuk menyambung kembali rasa rindu dan bakti kepada orang tua serta keluarga yang telah tiada. Di Guntung Lua, suasana haru bercampur hening menyatu dalam lantunan doa yang lirih.
“Saya selalu datang sebelum Ramadan, rasanya belum lengkap menyambut puasa kalau belum mendoakan orang tua di sini. Ini cara saya mengingat dan berterima kasih kepada mereka.” ujar Rahmah, seorang peziarah, Senin 16 Februari 2026.
Sementara Dedi, peziaran dari Banjarmasin mengatakan, ziarah bukan hanya tentang mendoakan. Ziaran juga mengingatkan diri sendiri akan kefanaan hidup.
“Kalau berdiri di antara makam seperti ini, kita sadar hidup cuma sementara, Jadi sebelum Ramadan, saya ingin membersihkan hati juga,” katanya sambil membersihkan makam orang tuanya,

Secara sosial, tradisi ini mempererat silaturahmi keluarga. Tak jarang, ziarah menjadi ajang berkumpul saudara yang jarang bertemu. Mereka membersihkan makam bersama, berbagi cerita tentang kenangan masa lalu, lalu menutupnya dengan doa bersama.
“Kami sengaja janjian supaya bisa datang ramai-ramai, anak-anak juga jadi tahu sejarah keluarganya.” tutur Lina, peziarah lainnya.
Dari sisi agama, ziarah kubur mengandung pesan mendalam tentang introspeksi dan persiapan spiritual. Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki diri.
Dengan berziarah, umat diingatkan untuk memperbanyak doa, memperkuat keimanan, serta menyadari bahwa setiap amal akan kembali kepada diri sendiri.
Di antara nisan yang sunyi, para peziarah di komplek pemakaman Guntung Lua membawa pulang lebih dari sekadar bunga yang telah ditabur. Mereka membawa kesadaran tentang kehidupan yang singkat, pentingnya bakti kepada orang tua, dan tekad menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih.
Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga jembatan antara yang hidup dan yang telah tiada, disatukan oleh doa dan harapan akan rahmat Tuhan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....