Makna Puasa dalam Tradisi Budaya Jawa

  • 06 Mar 2025 12:22 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Orang Jawa memiliki cara khas dalam memaknai dan melaksanakan puasa. Kegiatan ini dipengaruhi oleh ajaran Islam serta tradisi leluhur dan kepercayaan Kejawen.

Puasa bagi masyarakat Jawa merupakan perilaku spiritual, pengendalian diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal tersebut disampaikan Sulisno, S.Sn., M.A, atau yang akrab disapa Ki Sulisno, dalam acara Sambung Rasa, Rabu, (05/3/2025) di RRI Pro4 Banjarmasin.

Ki Sulisno menjelaskan bahwa puasa bagi masyarakat Jawa memiliki beragam makna. Diantaranya perilaku spiritual, yakni upaya membersihkan jiwa dan raga dengan mendekatkan diri kepada sang Pencipta.

Selain itu, bagi masyarakat Jawa puasa adalah menjalani tirakat sebagai pengendalian diri. Yakni bukan sekedar menahan haus dan lapar saja tapi juga bermakna menahan emosi dan godaan duniawi.

"Puasa itu ada yang berdiri sendiri sebagai puasa atau poso dan ada juga yang disertai dengan perilaku lainnya, salah satunya disebut Topo. Masing-masing puasa di dalam budaya Jawa punya bentuk dan tujuan yang berbeda," katanya.

Program siaran Sambung Rasa di RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu (5/3/2025). (Foto: Tangkapan Layar Youtube RRI Pro4 Banjarmasin)

Puasa Ramadan, selain wajib dilaksanakan dalam ajaran Islam. Masyarakat Jawa juga melakukan berbagai jenis puasa atau disebut juga poso yang berkaitan dengan perilaku spiritual.

Di antaranya Poso Mutih, yaitu puasa yang dilakukan hanya makan nasi tanpa lauk dan air putih saja. Kemudian juga ada Poso Ngrowot, yakni puasa yang hanya makan buah dan sayur.

Dalam tradisi masyarakat Jawa juga ada istilah poso atau Topo Pati Geni yaitu puasa yang dilakukan tidak makan minum, hanya sendirian di dalam kamar berukuran kecil tanpa ada cahaya penerangan. Tujuannya untuk menekan hawa nafsu.

Poso Pati Geni dijelaskan Ki Sulisno, dilakukan dari pagi sampai malam, bahkan ada yang selama 24 jam atau lebih. Kemudian juga ada Poso Weton yaitu puasa yang dilaksanakan saat hari lahir atau weton dalam penanggalan Jawa.

"Meskipun berbeda konteksnya, puasa yang dilakukan baik dulu maupun sekarang, semuanya merupakan upaya pengendalian diri. Apalagi di era saat ini yang memang menghadapi modernitas sangat materialistis," ujar Ki Sulisno.

Ki Sulisno juga menekankan, jika dulu banyak orang sakit bahkan meninggal karena kelaparan, tapi saat ini makanan yang tidak terkontrol dan berlebihan justru akan menyebabkan penyakit. Maka dengan pengendalian diri itulah seseorang diharapkan bisa meraih ketenangan, menjadi manusia yang bijaksana serta mampu menjaga hubungan baik dengan sang Pencipta, dengan dirinya sendiri, orang lain, dan alam sekitar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....