Keluarga Korban KM Virgo Harapkan Salvage Segera Dilakukan

  • 05 Okt 2026 14:00 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Proses salvage atau pengangkatan bangkai kapal KM Virgo Transport 8 kini menjadi harapan utama bagi keluarga korban. Terutama bagi puluhan keluarga yang hingga saat ini masih setia menanti kejelasan nasib sanak saudaranya di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.

Hingga data akumulasi Minggu, 4 Oktober 2026, sebanyak 53 penumpang masih dinyatakan hilang dari total 243 penumpang sesuai manifes. Sementara itu, 190 korban berhasil dievakuasi dengan rincian 108 orang selamat dan 82 orang meninggal dunia.

Tersisanya puluhan korban yang belum ditemukan memicu rasa prihatin mendalam di kalangan keluarga. Salah seorang keluarga korban, Karina, menyayangkan sikap pemilik kapal yang dinilai minim komunikasi terkait kepastian jadwal pengangkatan kapal.

"Sama seperti yang sebelumnya kami sampaikan. Kami meminta kejelasan terkait kapan kapal akan dievakuasi," ujar Karina.

Karina dan keluarga lainnya mendesak agar proses salvage dapat segera dieksekusi oleh pihak terkait demi kepastian nasib para korban. Pihak pemilik kapal juga dituntut untuk berkontribusi aktif dalam operasi pencarian, salah satunya dengan memberikan dukungan logistik.

Meskipun merasa cemas, pihak keluarga menyatakan akan menerima apa pun kondisi anggota keluarga mereka kelak saat ditemukan. Kepastian informasi dari bangkai kapal menjadi hal terpenting yang dinantikan saat ini.

"Harapan paling besar kami, keluarga kami dapat ditemukan. Dalam kondisi apapun nantinya, pasti akan kami terima," ucap Karina menambahkan.

Sebelumnya, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menghentikan sementara operasi penyelaman bawah air sejak Sabtu, 3 Oktober 2026. Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan teknis keselamatan penyelam menyusul tingginya risiko di dalam badan kapal.

Guna menjaga kelanjutan pencarian, fokus operasi kini dialihkan ke penyisiran permukaan dan pesisir perairan Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menegaskan Operasi SAR permukaan akan berjalan secara simultan bersamaan dengan proses salvage.

"Operasi SAR tetap dilaksanakan secara simultan selama proses salvage berlangsung. Fokus operasi dialihkan dan dioptimalkan melalui pencarian permukaan dan pesisir pantai," katanya.

Syafii menjelaskan bahwa Basarnas telah berkoordinasi intensif dengan Kementerian Perhubungan untuk mendorong percepatan proses salvage. Langkah ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yang mewajibkan pemilik kapal mengangkan bangkai kapal yang tenggelam.

Mengingat lokasi bangkai kapal berada di jalur pelayaran aktif, keberadaannya sangat berpotensi mengganggu keselamatan pelayaran. Karena itu, koordinasi lintas instansi terus dimaksimalkan agar proses pengangkatan kapal dapat segera direalisasikan.

"Karena posisi kapal ini berada di perairan aktif dan amanah undang-undang wajib dipindahkan. Saat itu juga saya komunikasi secara lisan dengan Wakil Menteri Perhubungan untuk mensinergikan operasi SAR dan salvage," ujar Syafii menjelaskan.

Syafii menekankan bahwa tim evakuasi baru dapat kembali menyisir bagian dalam kapal setelah proses salvage berhasil menstabilkan posisi bangkai kapal. Langkah ini penting dilakukan agar tingkat risiko terhadap personel SAR dapat terukur dan aman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....