Cegah Dampak Asap, Dinkes Kalsel Buka Posko Kesehatan ISPA
- 09 Sep 2026 11:40 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Selatan. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan mencatat sekitar 33 ribu kasus ISPA terjadi sejak awal Agustus 2026.
Lonjakan kasus ISPA tersebut meluas di 13 kabupaten dan kota se-Kalsel. Kepala UPTD Pelayanan Krisis dan Epidemi Kesehatan Dinkes Kalsel, Suriani Agreini Sagoba, menyebut Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar menjadi daerah penyumbang kasus tertinggi.
Suriani menjelaskan, maraknya Karhutla berpotensi memicu timbulnya berbagai gangguan kesehatan pada masyarakat. Meski demikian, belum ada pasien yang sampai harus menjalani perawatan inap atau meninggal dunia.
“Terjadinya karhutla ini memang berdampak pada peningkatan beberapa kasus penyakit. Namun, untuk kasus kejadian kematian ataupun penyakit yang sampai harus menjalani rawat inap, saat ini tidak ada,” ujarnya.
Mengenai pemicunya, Suriani mengungkapkan pihak surveilans epidemiologi belum memastikan bahwa kasus flu murni disebabkan oleh paparan asap kebakaran. Namun, angka temuan ISPA terbukti melonjak seiring maraknya Karhutla.
Guna merespons kondisi tersebut, Dinkes Kalsel menyiagakan lima posko pelayanan kesehatan terpadu di sejumlah titik strategis. Salah satu posko disiagakan di area Pengayuan dan Guntung Damar untuk membantu warga serta tim pemadam api.
“Kami menyiagakan posko pelayanan terpadu untuk membantu petugas pemadam api. Selain itu, untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak langsung kabut asap,” kata Suriani menambahkan.
Terkait penggunaan alat pelindung diri, Suriani menyarankan warga memilih jenis pelindung pernapasan yang memiliki ketebalan cukup. Penggunaan masker yang baik dinilai efektif menahan paparan debu dan partikel asap di udara.
“Disarankan masyarakat memilah masker yang tidak terlalu tipis dan kualitasnya lebih baik agar tidak mudah robek serta lebih efektif menahan debu dan asap. Masker kain pun sebenarnya tetap boleh digunakan,” ucapnya.
Selain penyakit ISPA, Dinkes Kalsel juga mencatat penyakit penyerta lainnya selama periode kemarau dan Karhutla. Pihaknya mendata 4.045 kasus diare akut, 524 kasus pneumonia, dan 474 kasus suspek demam tifoid.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....