Kualitas Udara Kalsel Memburuk, Warga Waspadai Risiko ISPA

  • 31 Agt 2026 06:36 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena paparan asap Karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut.

Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara pada Kamis, 27 Agustus 2026, Kalimantan Selatan mencatat nilai ISPU 274. Angka tersebut menempatkan kualitas udara pada kategori sangat tidak sehat, dengan PM2.5 menjadi salah satu parameter kritis.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof Dante Saksono Harbuwono menjelaskan asap Karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan masyarakat. Keluhan tersebut meliputi ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, PPOK, hingga iritasi mata serta kulit.

“Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga gangguan kesehatan," ujarnya “Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan,”

Risiko tersebut menjadi perhatian terutama bagi masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan selama kondisi udara memburuk. Paparan asap dalam kondisi tertentu juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, khususnya kelompok masyarakat rentan.

Pemerintah Indonesia terus memperkuat pelayanan kesehatan untuk menghadapi dampak Karhutla di sejumlah wilayah terdampak Indonesia. Hingga 27 Agustus 2026, sebanyak 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi ke tujuh provinsi untuk mendukung penanganan kesehatan.

Selain tenaga kesehatan, pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan juga menyiapkan berbagai perlengkapan perlindungan bagi masyarakat terdampak. Dukungan tersebut mencakup ratusan ribu masker, oksigen konsentrator, alat pelindung diri, serta perangkat pemurni udara.

Kemenkes memastikan pelayanan kesehatan tetap disiapkan melalui 1.691 Puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 Labkesmas. Masyarakat di wilayah terdampak juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala gangguan pernapasan selama kualitas udara memburuk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....