Otak Sehat Lahirkan Generasi Unggul menuju Indonesia Emas 2045
- 31 Jul 2026 19:26 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kesehatan otak menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan Indonesia memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, masyarakat didorong menjaga kesehatan otak sejak masa kehamilan hingga lanjut usia.
Hal tersebut disampaikan dalam Dialog Indonesia Sehat bertema "Otak Sehat, Negara Kuat" di RRI Pro 1 Banjarmasin, Jumat, 31 Juli 2026. Narasumber menghadirkan dr. Pagan Pambudi, M.Si., Sp.N(K)., dokter spesialis saraf konsultan nyeri dan nyeri kepala, bersama dr. Noviajun Dwiputri dan dr. Muna, residen Program Studi Neurologi FKIK Universitas Lambung Mangkurat.
"Bonus demografi hanya bernilai jika masyarakat memiliki otak yang sehat," kata dr. Pagan Pambudi. "Otak sehat melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, produktif, dan berakhlak mulia menuju Indonesia Emas 2045."
Ia menjelaskan otak merupakan pusat pengendali seluruh organ tubuh. Gangguan pada otak, termasuk stroke, dapat menurunkan kualitas hidup, produktivitas, hingga kemandirian seseorang.
dr. Pagan mengatakan Kementerian Kesehatan menjalankan Program KJSU yang berfokus pada penguatan layanan kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi. Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan, termasuk dokter puskesmas, dalam pencegahan, deteksi dini, dan penanganan awal stroke.
Ia menambahkan Kalimantan Selatan termasuk daerah dengan angka kasus stroke yang tinggi. Oleh karena itu, masyarakat diimbau rutin memeriksakan kesehatan dan memanfaatkan layanan dokter spesialis saraf melalui BPJS Kesehatan.
Sementara itu, dr. Noviajun Dwiputri menjelaskan pemenuhan nutrisi perlu dimulai sejak masa kehamilan hingga usia lanjut. Menurutnya, gaya hidup aktif, olahraga rutin, dan pemeriksaan kesehatan berkala membantu menjaga fungsi otak tetap optimal.
"Kesehatan otak dipengaruhi gizi seimbang, aktivitas fisik, tidur berkualitas, dan pemeriksaan kesehatan rutin," ujar dr. Noviajun Dwiputri. "Pengendalian hipertensi, diabetes, serta kadar lemak darah juga penting untuk mencegah stroke."
Di kesempatan yang sama, dr. Muna mengatakan pendekatan promotif dan preventif perlu terus diperkuat melalui edukasi di fasilitas kesehatan maupun media. Langkah tersebut dinilai lebih efektif dan efisien dibandingkan penanganan setelah penyakit saraf terjadi.
"Pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan," kata dr. Muna. "Edukasi kesehatan dapat menekan beban penyakit saraf sekaligus mengurangi pembiayaan kesehatan."
Masyarakat diingatkan untuk menjaga kualitas tidur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, serta membatasi penggunaan gawai pada anak. Kebiasaan tersebut diharapkan mampu menjaga kesehatan otak dan menciptakan sumber daya manusia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....