Sleep Apnea Tingkatkan Risiko Gagal Jantung

  • 28 Jul 2026 08:48 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Sleep apnea bukan hanya menyebabkan gangguan tidur, tetapi juga dapat memperburuk kesehatan jantung. Menurut tinjauan ilmiah oleh Takatoshi Kasai yang diterbitkan dalam Journal of Cardiology (2012). Gangguan ini sering ditemukan pada pasien gagal jantung dan dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian.

Sleep apnea terbagi menjadi dua jenis, yaitu Obstructive Sleep Apnea (OSA) akibat penyumbatan saluran napas, dan Central Sleep Apnea (CSA) akibat gangguan pusat pengaturan pernapasan di otak. Keduanya menyebabkan jeda napas saat tidur, penurunan kadar oksigen, dan peningkatan aktivitas saraf simpatis yang membebani kerja jantung.

Pada OSA, penyumbatan saluran napas meningkatkan tekanan pada jantung, menaikkan tekanan darah, serta mengurangi kemampuan jantung memompa darah. Sementara itu, CSA sering terjadi pada pasien gagal jantung dan berkaitan dengan risiko kematian yang lebih tinggi.

Gangguan tidur berulang juga memicu stres oksidatif, peradangan, dan kerusakan pembuluh darah yang dapat mempercepat aterosklerosis, penyakit jantung koroner, hingga memperburuk gagal jantung. Penanganan sleep apnea bertujuan memperbaiki kualitas tidur sekaligus mengurangi beban kerja jantung.

Pada pasien dengan OSA, terapi utama yang direkomendasikan adalah Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), yaitu alat yang mengalirkan udara bertekanan melalui masker saat tidur untuk menjaga saluran napas tetap terbuka. Terapi ini terbukti dapat meningkatkan fungsi pompa jantung dan membantu memperbaiki kondisi pasien gagal jantung.

Selain CPAP, perubahan gaya hidup juga berperan penting, seperti menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga sesuai kemampuan, mengurangi konsumsi garam, menghindari alkohol dan rokok. Serta tidur dengan posisi yang membantu menjaga saluran napas tetap terbuka.

Pada pasien dengan CSA, penanganan difokuskan pada pengobatan gagal jantung yang mendasarinya. Dokter dapat mempertimbangkan penggunaan terapi ventilasi positif, seperti CPAP atau alat bantu napas lainnya, untuk membantu menstabilkan pola pernapasan selama tidur. Namun, pemilihan terapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan berada di bawah pengawasan tenaga medis.

Peneliti menegaskan bahwa deteksi dini dan penanganan sleep apnea perlu menjadi bagian penting dalam perawatan pasien gagal jantung. Dengan diagnosis dan terapi yang tepat, risiko perburukan penyakit dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....