Waspada Tanda Bahaya Demam Berdarah Dengue

  • 25 Jun 2026 13:53 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini masih menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama saat musim hujan.

Hal tersebut disampaikan dr. Santi Indri Yani Achmadiyah dalam acara Indonesia Sehat di RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 19 Juni 2026. Menurutnya, nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di tempat yang memiliki genangan air bersih.

Ia menjelaskan, lokasi perkembangbiakan nyamuk tersebut antara lain bak mandi, ember, vas bunga, talang air, dan barang bekas yang menampung air hujan. Kondisi lingkungan yang lembap dan kurang terjaga kebersihannya juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

“Kondisi lingkungan yang lembap dan kurang terjaga kebersihannya meningkatkan risiko penyebaran penyakit ini. Risiko tersebut semakin tinggi terutama pada musim hujan,” ujarnya.

dr. Santi mengatakan gejala DBD umumnya muncul empat hingga sepuluh hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi virus dengue. Gejala awal yang sering ditemukan meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam pada kulit.

Ia menambahkan, pada sebagian kasus kondisi penderita dapat mengalami penurunan setelah beberapa hari demam. Karena itu, masyarakat perlu memahami perkembangan penyakit agar dapat segera memperoleh penanganan medis yang tepat.

“Pada sebagian kasus, dapat terjadi penurunan kondisi secara bertahap setelah beberapa hari demam. Kondisi tersebut perlu diwaspadai dan tidak boleh diabaikan,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan penyakit dapat mengarah pada kondisi yang lebih berat atau dengue berat. Tanda bahaya yang perlu diwaspadai antara lain nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan pada gusi atau hidung, BAB berdarah, muntah darah, tubuh sangat lemah, gelisah, hingga tanda syok seperti kulit dingin dan pucat.

“Fase kritis sering terjadi ketika demam mulai menurun. Karena itu, kondisi tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai tanda perbaikan,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....