Depresi dan Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai sejak Dini

  • 09 Jun 2026 15:11 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Depresi adalah gangguan suasana hati yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku.
  • Gejalanya meliputi kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat, dan penurunan energi.
  • Riwayat keluarga menjadi salah satu faktor risiko depresi.
  • Gangguan kecemasan, gangguan tidur, dan penyakit kronis turut meningkatkan risiko.
  • Deteksi dini dan dukungan yang tepat penting dalam penanganan depresi.

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Depresi merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan dan hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai. Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan sesuatu, hingga berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Depresi bukan sekadar rasa sedih biasa yang muncul sesaat. Gangguan ini dapat berlangsung dalam waktu lama dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan sosial, pekerjaan, serta kesehatan fisik.

Seseorang yang mengalami depresi dapat merasakan kecemasan, kehilangan semangat, merasa tidak berharga, hingga memiliki pikiran negatif yang berulang tentang diri sendiri dan kehidupannya. Selain itu, depresi juga dapat menyebabkan gangguan tidur, perubahan nafsu makan, serta penurunan energi.

Dilansir dari ayosehat.kemkes.go.id, penyebab depresi belum diketahui secara pasti. Namun, sejumlah faktor diyakini berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi tersebut.

Faktor biologis menjadi salah satu penyebab yang sering dikaitkan dengan depresi. Perubahan pada sistem kerja otak dan ketidakseimbangan zat kimia seperti serotonin, noradrenalin, dan dopamin dapat memengaruhi suasana hati seseorang.

Selain itu, faktor genetik juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap depresi. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat depresi berisiko lebih tinggi mengalami gangguan serupa.

Faktor lingkungan seperti kehilangan orang terdekat, trauma, masalah ekonomi, maupun konflik dalam hubungan sosial juga dapat menjadi pemicu depresi. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan emosional yang berat, terutama pada individu yang rentan.

Gangguan kesehatan mental dan fisik tertentu turut berkontribusi terhadap munculnya depresi. Gangguan kecemasan, masalah tidur, penyakit tiroid, maupun penyakit kronis lainnya dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Meningkatkan pemahaman mengenai depresi menjadi langkah penting untuk mendorong deteksi dini dan penanganan yang tepat. Dukungan keluarga, lingkungan, serta bantuan tenaga profesional dapat membantu individu yang mengalami depresi menjalani proses pemulihan dengan lebih baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....