Teknologi AR Perkuat Pembelajaran Matematika Berbasis Budaya Banjar

  • 07 Sep 2026 10:12 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Akademisi Universitas PGRI Kalimantan dan AGK Kabupaten Banjar mengenalkan teknologi Augmented Reality (AR) untuk mendukung pembelajaran matematika di sekolah dasar.
  • Guru didorong mengembangkan LKPD numerasi berbasis etnomatematika Banjar dengan memanfaatkan budaya lokal sebagai konteks pembelajaran.
  • AR melalui Assemblr Edu membantu siswa memahami konsep matematika secara lebih konkret dan interaktif.
  • Perpaduan teknologi dan budaya lokal diharapkan membuat pembelajaran matematika lebih kontekstual dan menarik bagi siswa.

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Akademisi Universitas PGRI Kalimantan bersama Asosiasi Guru Kelas (AGK) Kabupaten Banjar mengenalkan teknologi Augmented Reality (AR) untuk mendukung pembelajaran matematika di sekolah dasar. Pelatihan tersebut juga mendorong guru mengembangkan aktivitas pembelajaran dan lembar kerja peserta didik (LKPD) numerasi berbasis etnomatematika Banjar.

Hal tersebut dibahas dalam program Panderan Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Senin, 31 Agustus 2026, yang menghadirkan Dr. Haswinda Harpriyanti, M.Pd., M. Saufi, M.Pd., dan Dr. Kamariah, M.Pd. Ketiganya membahas pemanfaatan teknologi dan budaya lokal sebagai bagian dari pengembangan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual.

M. Saufi, M.Pd. mengatakan teknologi tidak ditujukan untuk menggantikan peran guru dalam pembelajaran matematika. Menurutnya, teknologi digunakan sebagai alat bantu untuk membuat konsep yang abstrak lebih mudah dilihat dan dipahami siswa.

“Teknologi bukan tujuan pembelajaran, tetapi alat untuk membantu anak memahami pembelajaran,” ujarnya. “Penggunaannya harus disesuaikan dengan materi dan kebutuhan siswa.”

Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah AR melalui Assemblr Edu. Teknologi tersebut memungkinkan objek digital ditampilkan seolah-olah berada di lingkungan nyata sehingga siswa dapat melihat dan berinteraksi dengan materi secara lebih konkret.

Augmented Reality (AR) dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bentuk ruang, ukuran, pola, bilangan, dan perbandingan. Teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk menghadirkan objek budaya Banjar sebagai bagian dari materi pembelajaran.

Dr. Haswinda Harpriyanti, M.Pd. menilai peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan teknologi penting karena guru menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan siswa. Guru tidak hanya perlu memahami penggunaan teknologi, tetapi juga harus mampu menentukan materi dan situasi pembelajaran yang tepat agar siswa tetap aktif berpikir.

Sementara itu, Dr. Kamariah, M.Pd. menekankan pentingnya memasukkan budaya lokal dalam pembelajaran matematika. Menurutnya, aktivitas masyarakat Banjar yang dekat dengan kehidupan anak dapat digunakan sebagai konteks untuk memahami berbagai konsep matematika.

“Matematika sebenarnya ada di sekitar kita,” ujarnya. “Budaya dan aktivitas masyarakat dapat menjadi sumber belajar yang membantu anak memahami matematika melalui hal-hal yang mereka kenal.”

Para guru selanjutnya didorong menerapkan hasil pelatihan di sekolah masing-masing serta berbagi praktik baik melalui komunitas AGK. Kolaborasi perguruan tinggi dan guru diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual sekaligus mengenalkan budaya Banjar kepada generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....