Mahasiswa ULM Kenalkan Kopi Mangrove di Tanah Bumbu
- 14 Agt 2026 12:34 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat mengembangkan inovasi kopi berbahan buah mangrove sebagai upaya memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal di wilayah pesisir.
- Inovasi kopi mangrove diperkenalkan melalui kegiatan edukasi di Desa Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, yang melibatkan lebih dari 20 masyarakat pesisir termasuk anggota PKK dan karang taruna.
- Produk inovasi ini bertujuan untuk mendorong kesadaran masyarakat terhadap keberlanjutan ekosistem pesisir dan penciptaan nilai tambah ekonomi dari sumber daya lokal.
RRI.CO.ID, Tanah Bumbu - Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengenalkan inovasi kopi berbahan buah mangrove kepada masyarakat pesisir Desa Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu. Inovasi tersebut menjadi upaya memanfaatkan potensi lokal sekaligus mendorong kepedulian terhadap keberlanjutan ekosistem pesisir.
Inovasi kopi mangrove diperkenalkan mahasiswa KKNT-LH ULM Kelompok 2 melalui kegiatan edukasi yang diikuti lebih dari 20 masyarakat pesisir, Sabtu, 8 Agustus 2026. Kegiatan tersebut melibatkan ibu-ibu PKK dan anggota karang taruna Desa Angsana.
Koordinator kelompok, Ahmad Ryan Faizal, mengatakan gagasan tersebut berawal dari keinginan mahasiswa memanfaatkan potensi lokal Desa Angsana secara berkelanjutan. Dari rencana awal membuat sirup mangrove, mahasiswa kemudian menemukan buah Rhizophora yang dapat diolah menjadi minuman menyerupai kopi.
Buah Rhizophora yang digunakan merupakan buah yang jatuh secara alami karena dinilai memiliki kandungan getah lebih sedikit dan rasa yang lebih kuat. Pengolahannya dilakukan melalui proses pembelahan, perendaman selama satu hingga dua minggu, pengeringan, kemudian disangrai hingga menghasilkan aroma menyerupai kopi.
"Kelompok kami sudah mencoba minum kopi mangrove ini, dan di beberapa tempat produk serupa sudah dipasarkan," kata Ryan, Kamis, 13 Agustus 2026. “Namun untuk tes resmi dari pemerintah memang belum ada."
Meski praktik pengolahan tidak dilakukan secara langsung bersama masyarakat, mahasiswa menayangkan video proses pembuatan kopi mangrove dalam kegiatan edukasi. Antusiasme peserta terlihat dari lebih dari 15 pertanyaan mengenai rasa, proses pengolahan, keamanan konsumsi, hingga peluang pengembangan usaha lokal.
"Karena kopi mangrove ini masih baru, masyarakat pesisir Angsana sangat tertarik. Mereka melihatnya sebagai inovasi yang berbeda dan berpotensi dikembangkan," ujar Ryan.
Ketertarikan masyarakat juga berkembang pada dampak pemanfaatan buah terhadap keberlangsungan ekosistem mangrove. Ryan menegaskan pemanfaatan harus dilakukan secara terbatas agar inovasi tersebut tidak berkembang menjadi eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
Menurut mahasiswa, tujuan inovasi bukan mengambil seluruh buah mangrove, melainkan mengenalkan alternatif pemanfaatan yang sebelumnya belum dikembangkan masyarakat. Hutan mangrove Angsana juga dinilai memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan bersamaan dengan fungsi ekologisnya sebagai pelindung pesisir.
Melalui kopi mangrove, mahasiswa berharap masyarakat semakin mengenali potensi lokal tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan pesisir Desa Angsana. Sebanyak 16 mahasiswa lintas FMIPA dan FPIK tersebut ingin meninggalkan gagasan yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah desa bersama masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....