Pendekatan Humanis Bantu Anak Cintai Matematika
- 03 Mei 2026 10:25 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Hubungan antara anak dan matematika kerap dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan bagi peserta didik di berbagai jenjang pendidikan. Pandangan ini dinilai perlu diubah melalui pendekatan pembelajaran yang lebih humanis dan kontekstual.
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin, Muh. Fajaruddin Atsnan, M.Pd., dalam siaran “Lentera Kehidupan” di RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 1 Mei 2026, menegaskan bahwa rasa cinta terhadap matematika dapat dibangun sejak dini. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan matematika dalam kehidupan sehari-hari anak.
Menurut Atsnan, matematika sebenarnya hadir secara alami dalam aktivitas sederhana, seperti menghitung mainan atau membagi makanan. Pendekatan ini dinilai mampu membuat anak lebih mudah memahami konsep tanpa merasa terbebani.
“Matematika tidak selalu hadir dalam bentuk angka rumit di papan tulis,” ujarnya. “Tetapi juga dalam percakapan hangat dan langkah kecil menghitung dunia di sekitarnya.”
Ia menekankan bahwa guru dan orang tua memiliki peran penting sebagai penghubung dalam membangun kedekatan anak dengan matematika. Pendekatan yang apresiatif dan tidak hanya berorientasi pada benar atau salah dinilai mampu meningkatkan kepercayaan diri anak.
Anak yang diberi ruang untuk mencoba dan melakukan kesalahan akan lebih mudah memandang matematika sebagai proses belajar yang menyenangkan. Kondisi ini membuat matematika tidak lagi dianggap sebagai ancaman.
Dalam praktiknya, aktivitas sederhana seperti menghitung jumlah pohon di halaman sekolah atau mengukur panjang meja dengan langkah kaki dapat membuat pembelajaran lebih hidup. Metode ini dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar menghafal rumus abstrak.
Atsnan menilai pengalaman belajar yang positif akan mengubah persepsi negatif menjadi ketertarikan yang berkelanjutan. Dengan demikian, matematika dapat dipahami sebagai alat berpikir yang dekat dengan kehidupan anak.
“Sebagai pendidik, kita hanya sebatas mak comblang,” ujarnya. “Namun, tugas kita memastikan hubungan anak dan matematika menjadi lebih bermakna melalui cara yang realistis.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....