Kreativitas Tanpa Batas, AI Bertemu Budaya Lokal

  • 30 Agt 2025 18:08 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: "Kreativitas Tanpa Batas: Ketika AI Bertemu Budaya Lokal", adalah tema Dialog Pro4 RRI Banjarmasin bersama Universitas Sari Mulia. Kamis (28/8/2025). Dialog digelar di Aula Universitas Sari Mulia Banjarmasin.

Dialog menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, mulai dari akademisi, seniman, hingga mahasiswa. Materi yang dibahas adalah peran kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan, seni, dan pelestarian budaya lokal di Kalimantan Selatan.

"Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menjaga kearifan lokal. AI harus kita posisikan bukan hanya sebagai alat, melainkan mitra dalam pengembangan kreativitas mahasiswa. Dengan begitu, budaya lokal tetap hidup berdampingan dengan perkembangan teknologi,” kata Wakil Rektor I Universitas Sari Mulia, Dr. Dede Mahdiyah, M.Si., CIIR.

Diskusi juga menyinggung bagaimana AI dapat dimanfaatkan dalam seni dan budaya. AI telah membuka peluang untuk menghadirkan karya seni dalam bentuk baru, sekaligus membantu proses dokumentasi dan promosi budaya daerah.

Sementara itu Ratna Lindawati, S.Kom., M.I.Kom, dosen Teknologi Informasi, mengungkapkan, dengan pemanfaatan AI, mahasiswa bisa membuat aplikasi yang mengenalkan budaya Banjar kepada dunia. Namun, tetap harus ada etika agar budaya kita tidak terdistorsi oleh teknologi.

Di sisi lain, praktisi seni juga berbagi pengalaman tentang penggunaan AI. Kris Imanu, seorang pelukis, menyampaikan bahwa ia telah mencoba menggunakan teknologi digital dalam proses berkarya.

“AI memang bisa mempercepat proses pembuatan karya, tapi tantangannya adalah menjaga orisinalitas dan keunikan ekspresi seniman. Itulah yang tidak boleh hilang meski teknologi semakin canggih,” katanya.

Sementara itu, mahasiswa juga turut menyuarakan pandangan mereka mengenai peran AI dalam dunia pendidikan dan budaya. Sebagaimana pemuturan Wulandari Febriani, mahasiswi Teknologi Informasi ini.

“Kami generasi muda ingin menggunakan AI bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk memperkenalkan budaya Banjar ke tingkat global. Harapannya, lewat produk digital, budaya kita bisa lebih dikenal tanpa kehilangan identitas aslinya.” ucapnya.

Dalam kaitan inilah maka dapat dikatakan, AI memiliki potensi besar untuk mendukung kreativitas, pendidikan, dan pelestarian budaya. Namun, integrasi AI tetap harus dilakukan secara etis, dengan menghormati sumber budaya asli serta melibatkan masyarakat sebagai bagian dari proses digitalisasi. Dengan semangat kolaborasi, AI diharapkan menjadi jembatan antara inovasi teknologi dan keberlanjutan budaya lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....