Ekspor Kalsel US$1,07 Miliar pada Agustus 2026 Turun 1,49 Persen

  • 04 Okt 2026 10:14 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarbaru - Nilai ekspor Kalimantan Selatan pada Agustus 2026 mencapai US$1.071,98 juta atau sekitar US$1,07 miliar. Meski masih tumbuh secara tahunan, nilai ekspor tersebut mengalami penurunan 1,49 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai US$1.088,20 juta.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan, secara tahunan nilai ekspor Agustus 2026 justru meningkat 12,05 persen. Bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS Kalsel, Mukhamad Mukhanif, menyampaikan kelompok bahan bakar mineral masih menjadi penyumbang terbesar ekspor daerah. Pada Agustus 2026, nilai ekspor kelompok tersebut mencapai US$876,94 juta, atau berkontribusi sebesar 81,81 persen terhadap total ekspor Kalsel.

Namun, ekspor bahan bakar mineral mengalami penurunan 4,16 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai US$915,01 juta. Sementara itu, kelompok lemak dan minyak hewani maupun nabati menjadi penyumbang ekspor terbesar kedua dengan nilai US$143,38 juta.

Berbeda dengan bahan bakar mineral, kelompok ini justru mengalami peningkatan 12,60 persen dibandingkan bulan sebelumnya. "Kontribusinya terhadap total ekspor Kalsel mencapai 13,38 persen," katanya.

Adapun tiga kelompok komoditas lainnya yang turut memberikan kontribusi terhadap ekspor Kalsel adalah kayu dan barang dari kayu sebesar 1,50 persen, besi dan baja 0,99 persen, serta aneka produk kimia sebesar 0,94 persen.

Di sisi lain, nilai impor Kalimantan Selatan pada Agustus 2026 tercatat sebesar US$144,85 juta. Angka ini meningkat cukup signifikan, yakni 74,61 persen dibandingkan Juli 2026 sebesar US$82,96 juta. Jika dibandingkan Agustus 2025, nilai impor juga mengalami kenaikan 26,85 persen dari sebelumnya US$114,19 juta.

Kepala BPS Kalsel, Mukhamad Mukhanif, menjelaskan impor masih didominasi kelompok bahan bakar mineral dengan nilai US$127,44 juta atau berkontribusi 87,98 persen terhadap total impor. Selanjutnya, kelompok kapal, perahu, dan struktur terapung menyumbang US$5,07 juta atau 3,50 persen. Disusul reaktor nuklir, ketel, mesin dan peralatan mekanis sebesar US$4,30 juta atau 2,97 persen.

"Kelompok perabotan dan perlengkapan tidur tercatat sebesar US$3,55 juta, sedangkan bahan kimia organik mencapai US$1,50 juta," katanya.

Berdasarkan pelabuhan, impor terbesar melalui Pelabuhan Kotabaru dengan nilai US$110,80 juta. Berikutnya Pelabuhan Banjarmasin sebesar US$22,32 juta dan Pelabuhan Batulicin sebesar US$11,68 juta.

Data tersebut menunjukkan, meskipun ekspor Kalsel masih tumbuh secara tahunan, penurunan pada Agustus 2026 terjadi di tengah meningkatnya nilai impor. Terutama pada kelompok bahan bakar mineral.

Dengan demikian, perkembangan ekspor dan impor menjadi salah satu indikator penting untuk melihat dinamika perdagangan luar negeri Kalimantan Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....