Hadapi Kemarau, Wali Kota Banjarbaru bersama ASN Laksanakan Salat Istisqa
- 24 Agt 2026 10:29 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarbaru - Pemerintah Kota Banjarbaru menggelar ibadah Salat Istisqa secara berjemaah di lapangan dr. Murdjani pada Senin 24 Agustus 2026 pagi. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menyikapi kemarau panjang dan bencana kekeringan yang sedang melanda wilayah Indonesia, khususnya di Kota Banjarbaru.
Pelaksanaan salat istisqa ini didiikuti langsung oleh Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banjarbaru, Sirajoni serta ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga Non-ASN dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Instasi lainnya di wilayah Kota Banjabaru. Kehadiran seluruh elemen birokrasi ini mencerminkan keseriusan daerah dalam menghadapi ancaman krisis iklim yang mulai berdampak luas pada sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Pelaksanaan salat sunat meminta hujan ini dipimpin oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarbaru. KH. Mukhlis Kaspul Anwar yang bertindak sebagai imam sekaligus khatib. Kehadiran jajaran pimpinan daerah Bersama ratusan pegawai ini menjadi symbol kepasrahan dan ikhtiar di tengah kemarau dan kekeringan yang kian parah.

Dalam khotbahnya, Ketua MUI Banjarbaru menggambarkan bahwa kondisi kemarau dan kekeringan saat ini sangat mengganggu. Khususunya kesehatan dan aktivitas masyarakat.
“Saat ini bumi tempat kita berpijak sedang diuji dengan kemarau panjang. Tanah-tanah mulai retak mencerminkan dahaga, sumber air surut dan menipis, tanaman layu, dan debu kering bertebaran ditiup angin. Kebakaran hutan meluas dan asap menyelimuti bumi. Udara yang kita hirup mengganggu kesehatan, menimbulkan keresahan, hingga mengganggu berbagai aktivitas kehidupan,” ujar Ketua MUI di hadapan ratusan jemaah yang tertunduk khidmat.
Ia juga mengingatkan bahwa musibah tertahannya hujan ini bisa jadi merupakan ulah dari masnusia. Banyaknya dosa yang dilakukan manusia dan kurangnya rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan merupakan sebagai salah satu sebab turunnya musibah dan bencana dari sang pencipta.
“Musibah kekeringan yang menimpa dan tertahannya tetesan air hujan dari langit ini bisa jadi buah dari kelalaian tangan kita sendiri. Ini semua boleh jadi bersumber dari genangan dosa-dosa yang terus kita tumpuk. Kemaksiatan yang dikerjakan secara terang-terangan serta keengganan kita untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya,” ujarnya.

Melalui momentum ini, KH. Mukhlis Kaspul Anwar menyerukan gerakan pembersihan hati. Salat istisqa bukan sekedar ritual meminta hujan, melainkan sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas ibadah dan membenahi hubungan antar sesama manusia.
Diakhir khotbahnya, jemaah diajak untuk selalu menjaga alam dan selalu memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berdoa untuk meminta kemarau dan kekeringan yang menyebabkan kebakaran dan kabut asap sehigga mengganggu Kesehatan dan aktivitas masyarakat dapat segera berakhir serta menggantinya dengan curahan rahmat berupa hujan yang menyejukkan.(typ/Oriz/MedCenBjb)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....