Belajar Alat Musik Tiup dan Gesek Butuh Konsistensi

  • 06 Sep 2026 09:17 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Alat musik tiup dan gesek memerlukan teknik permainan khusus yang menggabungkan latihan konsisten, ketelitian, dan pengaturan pernapasan yang baik.
  • Program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin menghadirkan Juzan Asnawi (Pak Dewa) sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman dan teknik dasar bermain alat musik tiup serta gesek.
  • Aspek fundamental dalam bermain alat musik tiup dan gesek meliputi cara memegang instrumen dengan benar, teknik menghasilkan nada yang jernih, dan penguasaan pernapasan yang konsisten.

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Alat musik tiup dan gesek memiliki teknik permainan yang membutuhkan latihan, ketelitian, dan konsistensi. Mulai dari cara memegang instrumen, menghasilkan nada, hingga mengatur pernapasan menjadi bagian penting yang perlu dikuasai.

Hal tersebut dibahas dalam program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin bersama PAPPRI, Rabu, 2 September 2026. Program tersebut menghadirkan Juzan Asnawi yang akrab disapa Pak Dewa sebagai narasumber untuk membahas pengalaman bermusik dan teknik dasar memainkan sejumlah alat musik tiup dan gesek.

Juzan dikenal sebagai pengajar musik yang juga membuka sekolah musik untuk berbagai kelompok usia. Ketertarikannya terhadap musik telah tumbuh sejak sekolah dasar ketika ia mulai mengenal alat musik tiup melalui recorder.

“Awalnya itu sejak SD belajar recorder. SMP itu sudah mulai dikirim untuk perform di festival-festival,” ujar Juzan.

Ia mengatakan, lingkungan keluarga turut memperkenalkan dirinya pada musik karena sang ayah merupakan anggota korps musik ABRI. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya mempelajari berbagai instrumen musik lainnya.

Menurutnya, alat musik tiup dan gesek memiliki karakteristik serta tingkat kesulitan yang berbeda. Alat musik gesek seperti biola, viola, cello, dan kontrabas dapat dipelajari sejak usia muda, sedangkan alat musik tiup membutuhkan kesiapan fisik karena melibatkan teknik pernapasan dan otot tubuh.

Juzan menyebut biola menjadi salah satu instrumen yang membutuhkan waktu cukup panjang untuk dikuasai. Selain teknik memegang instrumen, posisi bow atau penggesek harus tepat agar dapat menghasilkan suara yang baik.

“Biola itu paling lama. Tingkat keseluruhannya tinggi, jadi pegangnya harus benar, terus naruh penggeseknya juga harus benar,” kata Juzan.

Untuk pemula, Juzan menyarankan latihan dilakukan secara rutin dengan memainkan nada panjang terlebih dahulu. Setelah mampu menghasilkan suara yang stabil, latihan dapat dilanjutkan dengan tangga nada dan berbagai variasi permainan.

Menurutnya, konsistensi latihan menjadi kunci untuk membangun kemampuan bermain biola. Berdasarkan pengalamannya mengajar, pemain yang benar-benar baru belajar biola membutuhkan waktu sekitar enam bulan agar mulai dapat menampilkan permainan secara layak.

Selain dimainkan dengan cara digesek, biola juga dapat dimainkan dengan teknik petik yang disebut pizzicato. Sementara itu, teknik memainkan biola menggunakan bow disebut arco, yang menghasilkan karakter suara berbeda.

Juzan menambahkan, biola tidak hanya digunakan dalam pertunjukan orkestra. Perkembangannya membuat instrumen tersebut juga banyak digunakan dalam berbagai kelompok musik sebagai pengisi melodi, termasuk untuk membawakan lagu bergenre pop.

Pembahasan kemudian beralih pada alat musik tiup yang juga menjadi bidang pengajaran Juzan, seperti flute dan saxophone. Ia menjelaskan, teknik pernapasan menjadi dasar penting sebelum seseorang mulai memainkan melodi menggunakan instrumen.

Menurutnya, latihan pernapasan dapat dilakukan dengan mengambil napas kemudian meniup sepanjang mungkin tanpa menggunakan instrumen terlebih dahulu. Latihan tersebut dilakukan secara rutin sebelum diterapkan saat memainkan alat musik.

“Belajar niup sepanjang mungkin. Ambil napas, niup. Ditiup tanpa instrumen, dilatih tiap hari, habis itu pakai instrumen,” ujarnya.

Dalam permainan alat musik tiup, teknik pernapasan diafragma diperlukan untuk membantu menghasilkan aliran udara yang lebih terkontrol. Juzan menjelaskan, pernapasan diafragma ditandai dengan bagian perut yang mengembang saat menarik napas, bukan sekadar mengandalkan gerakan dada.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....