Tempat Berteduh Tak Selalu Rumah

  • 09 Agt 2026 09:40 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Tempat berteduh tidak selalu berbentuk rumah atau ruang untuk berlindung dari hujan. Bagi sebagian orang, tempat berteduh bisa berarti seseorang, lingkungan, aktivitas, bahkan ruang untuk berdamai dengan diri sendiri.

Makna tersebut menjadi perbincangan dalam program Ruang Sastra Pro 4 RRI Banjarmasin, Kamis, 6 Agustus 2026. Temanya “Pencarian Tempat Berteduh”, menghadirkan tiga narasumber, yakni Elly Rahmah, M. Raihan, dan Alvian.

Alvian memandang tempat berteduh sebagai ruang untuk menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura. Menurutnya, tempat untuk pulang tidak selalu berarti sebuah rumah, tetapi tempat seseorang dapat merasakan kenyamanan dan diterima apa adanya.

“Pulang itu bukan berarti rumah, tapi bagaimana kita merasakan nyaman,” ujar Alvian.

Pandangan berbeda disampaikan Elly Rahmah yang melihat sosok tempat berteduh dari perspektif seorang ibu. Menurutnya, rasa nyaman dan aman menjadi bagian penting ketika seseorang menentukan siapa yang dapat dipercaya sebagai tempat bersandar.

"Orang yang dapat dipercaya, mampu menjaga janji dan bersikap jujur merupakan sosok yang memiliki nilai penting dalam hubungan antarmanusia. Namun, setiap orang juga memiliki ukuran kenyamanan yang berbeda," katanya..

Sementara itu, Raihan memiliki pandangan yang lebih hati-hati terhadap manusia sebagai tempat berteduh. Menurutnya, manusia dapat berubah seiring waktu sehingga tempat berteduh tidak harus selalu dicari dari orang lain.

"Seseorang yang telah berdamai dengan lukanya dapat menjadi tempat berteduh bagi orang lain. Pengalaman menghadapi luka membuat seseorang lebih memahami perasaan dan keadaan orang yang sedang mengalami persoalan serupa," ujarnya.

Pembahasan kemudian berkembang pada cara seseorang menyembuhkan diri. Menulis atau journaling disebut sebagai salah satu cara untuk menuangkan hal-hal yang sulit disampaikan secara langsung. Pengalaman pribadi dan kegelisahan dapat diubah menjadi karya yang memiliki makna.

Enam puisi turut dibacakan dalam siaran tersebut. Salah satunya “Takdir” karya Alvian yang mengangkat tentang bagaimana manusia menerima jalan hidup dan menemukan ketenangan melalui keikhlasan.

Puisi “Pencarian Tempat Berteduh” karya Elly Rahmah juga menjadi bagian penting dalam siaran. Karya tersebut menggambarkan perjalanan mencari ketenangan di tengah lelah, keraguan dan hiruk-pikuk kehidupan, hingga akhirnya menyadari bahwa kedamaian juga dapat ditemukan di dalam diri.

Salah satu karya yang mendapat perhatian adalah puisi “Pulang” karya Alvian. Puisi tersebut, mengangkat persoalan anak-anak dan remaja yang mencari kenyamanan di luar rumah ketika lingkungan mereka tidak memberikan ruang yang cukup untuk merasa diterima.

Menurut Alvian, persoalan kenakalan remaja tidak selalu dapat dilihat sebagai kesalahan individu. Lingkungan dan pola didikan turut berpengaruh terhadap pilihan yang mereka ambil ketika mencari tempat untuk merasa nyaman.

“Waktunya kita rangkul teman-teman kita yang seperti itu. Kalau bukan kita lagi, siapa?” katanya.

Sementara itu, puisi terakhir karya Raihan berjudul “Tempat Sama Pegangan Berbeda”. Pusi itu mengajak semua untuk melihat bagaimana dua orang dapat berada di tempat yang sama, tetapi memiliki jalan, perasaan dan pandangan yang berbeda.

Ruang Sastra Pro 4 RRI Banjarmasin juga menjadi ruang bagi para pegiat sastra muda untuk terus berkarya. Dalam kesempatan tersebut, Alvian turut menceritakan rencana membuat antologi bersama Yuliana dan Halipah. Alurnya menggambarkan kegelisahan, proses mengikhlaskan dan akhirnya menerima keadaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....