“Bukan Pesta Biasa”, Ruang Sastra Angkat Luka Sosial lewat Puisi
- 22 Mei 2026 18:48 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin — Suasana haru dan reflektif mewarnai siaran Ragam Budaya “Ruang Sastra” Pro 4 RRI Banjarmasin, Kamis, 21 Mei 2026 malam. Mengangkat tema “Bukan Pesta Biasa”, program tersebut menghadirkan pembacaan puisi yang bukan sekadar hiburan, melainkan kritik sosial dan ungkapan kegelisahan terhadap kondisi lingkungan serta kehidupan masyarakat saat ini.
Tiga narasumber muda yakni Indira Rahmawati, Legi Artisa, dan Yuliana. Ketiganya membahas makna “pesta” yang tidak lagi identik dengan kegembiraan, tetapi menjadi simbol perlawanan, kesedihan, hingga doa dari masyarakat yang merasa tersisih dan terluka oleh keadaan.
Dalam siaran tersebut, Legi Artisa membacakan puisi berjudul Topeng Serakah sebagai Berkah yang menggambarkan kritik terhadap eksploitasi alam atas nama pembangunan. Puisi itu menyoroti kerakusan manusia yang membungkus kepentingan pribadi dengan dalih kesejahteraan masyarakat. “Makin lama makin serakah, makin banyak yang diambil, sampai akhirnya tempat hidup masyarakat ikut habis,” ujar Legi saat menjelaskan makna puisinya.
Sementara itu, Yuliana melalui puisi Ketika Pesta Menjadi Doa menggambarkan pesta bukan lagi ruang kesenangan, melainkan tempat mengadu kepada Tuhan ketika suara masyarakat tidak lagi didengar. Menurutnya, puisi tersebut lahir dari kegelisahan melihat perjuangan masyarakat mempertahankan ruang hidup mereka di tengah kerusakan alam dan ketidakpedulian pihak tertentu.
Indira Rahmawati juga membacakan puisi Jeritan Bumi yang menggambarkan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi berlebihan. Ia menilai alam saat ini seolah menangis dalam diam karena manusia terus mengejar keuntungan tanpa memikirkan dampak jangka panjang. “Puisi ini mengingatkan bahwa bumi harus dijaga agar tetap lestari untuk generasi berikutnya,” katanya.
Melalui tema “Bukan Pesta Biasa”, Ruang Sastra Pro 4 RRI Banjarmasin menghadirkan sastra sebagai media menyuarakan empati dan kepedulian sosial. Puisi-puisi yang dibawakan tidak hanya menjadi karya estetika, tetapi juga refleksi terhadap realitas yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya terkait lingkungan dan kemanusiaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....